Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Lemahnya Etos Kerja Penyebab Hilangnya Keberkahan Rezeki

Posted by abifasya pada 1 September 2015


staf TU SMPN5bgrDalam sebuah hadits dikatakan bahwa :
“Sesungguhnya di antara perbuatan dosa ada dosa yang tidak bisa terhapus oleh shaum dan Shalat. Ditanyakan pada beliau : ‘Apakah yang dapat menghapuskannya, Ya Rasulullah ?” Jawab Rasul saw: “Bekerja (kesusahan) dalam mencari nafkah penghidupan”(HR. Abu Nu’aim)
“Ada sebagian dosa manusia yang tidak dapat diampuni dengan melakukan shalat, puasa, zakat, haji, dan umrah. Tapi dosa tersebut terampuni lantaran keprihatinannya memikirkan nafkah keluarga.” (HR. Imam Muslim)
Dalam kedua hadits di atasa tidak disebutkan dosa apa yang bisa dihapus dengan lelahnya bekerja, tidak disebukan juga pekerjaan apa yang bisa menghapus dosa. Itu artinya bahwa apapun pekerjaan kita, bila dilakukan dengan sunguh-sungguh dan penuh keikhlasan dan didekasikan hanya untuk mengigat dan berbakti kepada Allah maka pekerjaan teresbut berpotensi menjadi penghapus dosa.
Tapi perlu kita waspadai juga karerna ternyata jika kita tidak memiliki etos kerja yang tinggi dalam pekerjaan kita, bekerja hanya asal-asalan, kalau datang ke kantor hanya mengisi absen saja, duduk santai, ngobrol ngalor ngidul, tanpa ada pekerjaan yang berarti yang kita lakukan. Maka perbuatan seperti ini bisa menyebabkan hilangnya berkah dari uang gaji yang kita terima.
Ada kisah yang bisa kita ambil pelajaran, saya kutip dari : http://www.antiliberalnews.com

Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham.

Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran.
Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang.

Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua? Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya. Lalu Imam Syafi’i membacakan sebuah sya’ir:

جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.
***
Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.

Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.

Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran (tetangga) sekitar tidak ada yang baikan.

Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.

Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk shalat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan (profesional), hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat.
****

Jadi jika saat ini anda masih merasa kurang dengan pendapatan (gaji) yang anda peroleh, dan seacara sadar diri andapun merasa bahwa selama ini etos kerja anda sangat lemah. Setiap hari selalu ada kesempatan cekcok dengan istri, anak-anak mengabaikan nasihat anda, semakin jauh dengan Allah, semakin banyak kesempatan berbuat maksiat. Maka waspadalah karena keberkahan rezeki anda sudah hilang, diantaranya mungkin karena di situ ada gaji buta (dalam bahasa sunda : Aya duit nu teu kagawean).
Tidak kata terlambat untuk memperbaiki diri, tidak usah malu untuk berubah. Dan tidak usah mengelak dari kenyataan yang sudah terjadi. Mari kita bersama-sama mencari ridlo Allah agar kita dicintai-Nya.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya bersusah-payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal.” (HR. Ad-Dailami).

Wallahu ‘Alam.

Iklan

3 Tanggapan to “Lemahnya Etos Kerja Penyebab Hilangnya Keberkahan Rezeki”

  1. John said

    info yang sangat menarik, sepertinya harus dicoba 🙂 , Aerilyn

    Suka

  2. agoesman said

    Harus dibangktkn lgi etos kerjanya

    Suka

  3. artikel yang menarik..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: