Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Susahnya Menjadi Pemaaf

Posted by abifasya pada 30 Juli 2015


Halal bihalal di STIKOM

Halal bihalal di STIKOM

Assalaamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selepas lebaran di setiap instansi selalu saja ada yang menyelenggarakan shilaturrahmi idulfitri yang di negeri kita kegiatan tersebut sering disebut halal bil halal, pun demikian dengan di STIKOM Bina Niaga yang merupakan bagian dari Pajajaran Grup (STIE Bina Niaga, STIKOM BIna Niaga, Amik Bgor, BBC Sukabumi) tidak ketinggalan menyelenggarakan acara tersebut.

Walaupun saat ini saya tidak lagi merupakan bagian dari perguruan tinngi tersebut tapi setidaknya saya pernah bergabung dengan salah satu anggota grup tersebut yaitu AMIK Bogor. Dan pada kesempatan halal bil halal tersebut saya diberikan tugas untuk menyampaikan “mauidzhatul hasanah” (istilah Pak Syamsul STIKOM …heheheh). Yaa … walaupun sebenarnya acara tersebut berbarengan dengan acara halal bil halal di SMPN 5 Bogor saya sanggupi aja. Dan materi yang saya sampaikan pada kesempatan tersebut adalah kajian dari Q.S. Ali Imran ayat 133 s.d. 135 berikut ini :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ   الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ   وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (QS. 3:133)

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 3:134)

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah – Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui. (QS. 3:135)

Pelajaran yang dapat diambil dari ayat2 Allah di atas diantaranya adalah :

PERTAMA :Senantiasa menyegarkan diri untuk dapat ampunan Allah sehingga kita mendapatkan surganya Allah.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa :

  • Sesungguhnya di antara perbuatan dosa ada dosa yang tidak bisa terhapus oleh shaum dan Shalat. Ditanyakan pada beliau : ‘Apakah yang dapat menghapuskannya, Ya Rasulullah ?” Jawab Rasul saw: “Bekerja (kesusahan) dalam mencari nafkah penghidupan”(HR. Abu Nu’aim)

Maka agar surga bisa kita raih, melalui momentum bulan syawal mari Tingkatkan Kinerja kita Sehingga lelahnya kerja yang kita rasakan dapat menghapus dosa yang kita lakukan.

Untuk meningkatkan kualitas kinerja kita setidaknya ada 4 KARTU AS Yang bisa dilakukan, bahkan emapat AS ini bisa mengantar kita pada kesuksesan dunia akhirat yaitu :

  1. Kerja kerAS, tanamkanlah nilai-nilai Kebaikan Berikan materi ajar kepada anak didik tanpa kenal lelah dan jangan dibatasi dengan ruangan belajar. Dimanapun, dan kapanpun saat anak didik memerlukan penjelasan dari kita, atau apapun yang kita bisa berikan buat mereka lakukanlah. Layani mereka dengan sebaik-baiknya sehingga mereka puas dengan pelayanan kita sbagai Guru/Murid
  2. Kerja cerdAS, seorang Guru harus mampu mensiasati keterbatasan jam mengajar yang hanya beberapa jam saja. Ciptakan suasana belajar yang kondusif, jadikan setiap kegiatan sebagai sarana pembelajaran. Saat anak belajar harus benar2 dirasakan sedang belajar bahkan saat istirahat, bermain atau saat menjalankan sebuah sanksi di sana ada pembelajaran.
  3. Kerja IkhlAS, dedikasikan pekerjaan itu sebagai ibadah. Apa yang kita lakukan untuk anak didik kita jangan selalu dikaitkan dengan imbalan dari sesama manusia. Jangan sampai terjadi “CUEUT KANU HIDEUNG PONTENG KANU KONENG”. Pelayanan prima hanya diberikan kepada anak didik tertentu sementara kepada anak didik yang lainya tidak memberikan pelayanan yang baik.
  4. Kerja TuntAS, jangan bekerja setengah-setengah. Bekerjalah seoftimal mungkin untuk kepentingan pendidikan, bukan hanya mampu menyelesaikan kegiatan pembelajaran di dalam kelas dengan baik. Tapi semua kegiatan baik yang terkait langsung dengan pembelajaran ataupun tidak bisa diselesaikan dengan baik.

KEDUA : Surga disiapkan Allah untuk dihuni oleh orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang yang menginfaqkan hartanya baik dikala lapang maupun sempit, orang yang memaafkan kesalahan orang lain.

Saat kita berinfaq sebaiknya tidak harus menunggu saat lapang dan berkecukupan, berinfaqlah walaupun kita berada dalam keadaan sempit. Berinfaqlah dengan apapun yang bisa kita infaqkan, jika kita memiliki harta benda maka berinfaqlah dengan harta, jika kita memiliki ilmu maka berinfaqlah dengan ilmu yang kita memiliki. Dan jika harta dan ilmu tidak kita miliki maka berinfaqlah atau bersedekahlah dengan senyuman, karena terfsenyumpun adalah shadaqah.

Mushofahah Unsur Pimpinan dengan Karyawan

Mushofahah Unsur Pimpinan dengan Karyawan

Dalam hal maaf memafkan terasa ada yang tidak pas dalam kebiasaan kita, dalam benak kita sering terbersit bahwa bila kita bersalah kita harus meminta maaf, dan tidak terpikirkan bahwa bila orang lain bersalah maafkanlah kesalahannya.

Sehingga kata-kata : “Maaf kan aku bila aku bersalah” …. Menjadi sedemikian populer dan merupakan sesuatu yang harus kita katakan bila kita merasa bersalah kepada seseorang. Dan kita telah menganggap bahwa kita telah melakukan perbuatan baik karena sebagai orang yang bersalah kita telah melakukan permohonan maaf terlebih dahaulu. Lain halnya jika kita berada pada posisi yang terzalimi, kita berharap orang yang berbuat zalim itu meminta maaf kepada kita, dan sering tidak terasa keluar ucapan yang menggelikan dari indahnya mulut kita : “Sampai kapanpun tidak akan pernah aku maafkan kesalahannya, karena begitu seringnya dia menyakitiku, biar tahu rasa dia karena Allah pun tidak akan memaafkan kesalahannya sebelum aku memaafkanya”.

Subhanallah ……!!! Benarkah demikian ? apakah orang yang bicara seperti itu tidak merasa kalau apa yang dibicarakannya telah melebihi apa yang dilakukan Tuhannya ? tidak tahukan dia Kalau Tuhannya itu maha Pemaaf ? tidak tahukah dia berita dari Al Qur’an yang menyatakan bahwa esensi maaf memaafkan dalam ajaran Islam bulanlah menjadi peminta maaf tetapi menjadi pemaaf, jika demikain simaklah peringatan Allah berikut ini :

 خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

 Artinya : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (Al Araf : 199)

Kalau harus menjadi pemaaf, maka jangan segan-segan untuk selalu senang memaafkan kesalahan orang-orang yang telah bersalah atau menzalimi kita, setidaknya ada empat tingkatan manusia yang memaafkan kesalahan orang lain, yaitu :

  1. Tingkatan pertama adalah tingkatan yang paling rendah, yaitu bila seseorang memafkan kesalah orang lain dengan catatan tertentu (imblan tertentu). Contoh : “ Saya maafkan kesalahanmu tapi tolong jangan diulang yah !”
  2. Tingkatan kedua, Dia akan memaafkan kesalahan orang lain lahir bathin jika orang yang bersalah itu meinta maaf. Seperti kata-katanya : “Saya akan maafkan kesalahannya baik lahir maupun bathin asalkan dia (orang yang bersalah) meminta maaf kepada saya”.
  3. Tingkatan ketiga, Tanpa minta maafpun dia akan memaafkan kesalahan orang yang berlaku zalim kepadanya. Seperti kata-katanya : “udah deh …. Semua kesalahan yang engkau lakukan telah aku maafkan …. Jauh sebelum engkau meminta maaf “
  4. Tingkat ke empat adalah tingkat paling tinngi, yaitu dia senantiasa dan telah memaafkan orang yang bersalah kepadanya tanpa imbalahan jauh sebelum orang itu meminta maaf bahkan mendo’akannya agar Allah mengampuni dosa-dosanya (dosa orang yang bersalah).

Ada suatu kisah, pada suatu masa, suatu hari setelah melaksanakan shlat berjamaah di Mesjid Nabi, Rasululullah SAW bersama para sahabatnya duduk santai di beranda Mesjid. Tiba-tiba Rasulullah saw bersabda, “hai sahabatku sebentar lagi akan dating kepadamu seorang ahli surga”. Sahabat bertanya, Siapakah gerangan orang itu ?. Rasul menjawab, saya tidak dapat menjelaskannya. Sekarang kalian saja. Beberapa saat kemudian datanglah seseorang berpakaian putih dan banyak debu sisa-sisa perjalanan panjang di padang pasir. Ia masuk ke dalam Masjid sambil mengucapkan salam, setelah itu ia melakukan shalat. Stelah shalat ia pamit untuk pulang. Para Sahabat menyelidiki lelaki itu, apa gerangan yang menyebabkan Rasulullah menyebutnya sebagai ahli surga. Namun para sahabat tidak melihat sesuatu kelebihan pada orang itu. Sahabat bertanya Kepada Rasulullah, apa kelebihan orang itu ya… Rasulullah ?, Rasulullah tidak memberikan jawaban. Kemudian Seorang Sahabat meminta izin Rasulullah untuk mengikuti orang itu dan Rasul memberikan izin.

Lelaki itu bertanya, mengapa engkau mengikutiku ? Sahabat menjawab : “Rasulullah menyebutmu sebagai ahli surga; aku dan para sahabat yang lain penasaran ingin tahu apa kelebihanmu”. Sahabat itu menginap beberap hari di rumah lelaki ahli surga itu , tetapi sahabat itu tidak menemukan satupun kelebihan lelaki ahli surga itu. Shalatnya hanya yang wajib, tidak melakukan shalat sunnah.

Karena merasa telah lama berada di rumah lelaki ahli surga itu dan tidak mendapatkan sedikitpun jawabannya akhirnya shabat itu bertanya kepada lelaki ahli surga itu : “Dapatkah anda menjelaskan kepadaku kelebihan amalanmu sehingga Nabi mengatakan engkau ahli surga”. Si Ahli surga menjawab : “Aku adalah orang biasa seperti orang awam pada umumnya akan tetapi sebelum tidur aku selalu memaafkan kesalahan orang lain kepadaku, sengaja atau tidak sengaja, tanpa memperdulikan apakah orang itu meminta maaf kepadaku atau tidak, kemudian aku doakan agar mereka yang bersalah kepadaku diampini dosanya oleh Allah SWT”.

Demikian sepanggal kisah tentang keagungan memaafkan kesalahan orang lain sehingga pelakunya disebut oleh Rasul sebagai Ahli Surga. Pemaaf adalah salah satu perilku yang sangat terpuji dalam Islam. Ada teori yang mengatakan bahwa perdamaian tidak akan tercapai dengan dengan melakukan pembalasan; perdamaian terwujud dengan memaafkan. Dan memaafkan akan memperbaiki relasi antara manusia. Pemaaf yang juga merupakan salah satu sifat Ketuhanan (sifat milik Allah) seyogyanya menjadi sifat muslim dan manusia pada umumnya.

Apakah diantara kita telah menjadi seorang pemaaf ?

Jika sudah, berada ditingkat berapakah kita ?

Dan ternyata Menjadi Pemaaf itu amatlah susah, maka tidaklah salah kalau ada pepatah yang mengatakan susahnya menjadi pemaaf.

Ketiga : Apabila terlanjur berbuat kejahatan, maka segeralah mengingat Allah dan memohon ampunannya atas segala kehilafan yang diperbuat karena hanya Allah lah yang akan mengampuni dosa-dosa yang kita perbuat. Perbuatan dosa sebesar apapun akan diampuni Allah kecuali bila kita mempersekutukan-Nya, maka waspadalah dengan berbagai tipu daya syaitahan yang senantiasa menjerumuskan manusia ke dalam kemusyrikan.

Wallahu ‘Alam

Iklan

2 Tanggapan to “Susahnya Menjadi Pemaaf”

  1. John said

    info yang sangat menarik, sepertinya harus dicoba 🙂 , Aerilyn

    Suka

  2. artikel yang menarik..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: