Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Materi Ajar : Memahami Tata Cara Berbagai Shalat Sunnah

Posted by abifasya pada 3 Maret 2014


duha 2

Shalat Dluha Bersama di SMPN 5 Bogor

Selama ini kita sering mengartikan sunnah sebagai amal perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidaklah berdosa. Walhasil dengan devinisi seperti ini kebanyakan diantara kita sering menganggap enteng atau mungkin memandang sebeleh mata terhadap shalat sunat. Untuk itu harus ada redevinisi terhadap pengertian sunnah agar kita semua semakin giat dan semakit sering melakukan perbuatan sunnah seperti shalat sunnah, shaum sunnah, dan lain-lain.

Tidaklah berlebihan jika saya mencoba memberikan devisi baru terhadap sunnah, yaitu sebagai amal kebajikan yang yang dapat meningkatkan kualitas ibadah kita bahkan bisa jadi sebagai penambal (penutup) atas kekurangan-kekurangan yang terjadi saat melakukan perbuatan wajib. Demikian halnya dengan shalat sunah berarti shalat sunnah dapat diartikan sebagai amal kebajikan yang dapat meningkatkan kualitas ibadah shalat kita dan menutupi kekurangan-kekurangan yang terdapat pada shalat fardlu.

Pengertian

Shalat sunat ada yang dilakukan dengan berjamaa, ada yang dilakukan dengan cara munfarid, dan ada yang bisa dilakukan  dengan berjamaah atau munfarid.

Shalat Sunnah berjamaah adalah shalat sunnah yang dikerjakan secara bersama-sama paling sedikit dua orang terdiri dari imam dan makmum. Sedangkan shalat sunnah munfarid adalah shalat sunnah yang dilakukan sendiri-sendiri tidak ada imam dan tidak ada makmum.

Keutamaan Sholat Sunnah dan Sholat Berjama’ah

Jalan menuju ke Surga dan meraih keberuntungan begitu banyak, karena Rasulullah SAW menganjurkan agar kita melaksanakan amalan-amalan nawafil/sunnah, termasuk sholat-sholat sunnah. Sholat sunnah adalah amalan yang jika dikerjakan akan mendapatkan pahala, namun jika tidak dikerjakan maka tidak berdosa. Begitu banyak keutamaan/fadhilah dari  pelaksanaan sholat sunnah dan sholat berjama’ah. Rasulullah SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ

Dari Abu Hurairah”Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman : ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (perbuatan) yang Aku sukai seperti bila ia melakukan yang fardhu yang Aku perintahkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang ia gunakan untuk memegang, sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti akan Aku berikan kepadanya.” (HR. Bukhori)

صَلاَةُ اْلجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ اْلفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

“Shalat jama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibanding dengan shalat sendirian”

(HR. Muttafaq ‘Alaih)

صلاة الرجل فى جماعة تزيد عن صلاته فى بيته، و صلاته فى سوقه بضعا و عشرين درجة، و ذلك أن أحدهم إذا توضأ فأحسن الوضوء لا ينهزه إلا الصلاة. لا يريد إلا الصلاة، فلم يخط خطوة إلا رفع له بها درجة و حط عنه خطيئة حتى يدخل المسجد، فإذا دخل المسجد كان فى الصلاة ما كانت الصلاة هي تحبسه و الملائكة يصلون على أحدكم ما دام فى مجلسه الذي صلى فيه يقولون: اللهم ارحمه اللهم اغفر له اللهم تب عليه، ما لم يؤذ فيه ما لم يحدث فيه

“Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih utama dan lebih banyak pahalanya dengan dua puluhan (25 atau 27) derajat dari pada shalat sendirian di rumah atau di pasar. Hal ini dikarenakan, apabila salah seorang di antara kalian berwudhu’ dengan sempurna, kemudian pergi ke masjid dan tidak ada niatan lainnya kecuali untuk shalat dan tidak melangkahkan kakinya kecuali karenanya (shalat), maka akan ditinggikan derajatnya dan akan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid hanya un-tuk dan hanya karena shalat. Dan para malaikat akan bershalawat kepada salah seorang di antara kalian selama masih berada di tempat (shalat)nya seraya mereka berkata: Ya Allah, sayangi dan am-punilah dia, asalkan dia tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadats” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Sholat Sunnah Berjama’ah

a.      Sholat ‘Idain 

Idul Fithri, yaitu salat sunah 2 raka’at yang dilakukan pada Hari Raya ‘Idul Fithri, yaitu setiap tanggal 1 Syawwal. Salat ini diadakan secara berjama’ah di masjid atau di tanah lapang, pada waktu setelah terbit matahari sampai tergelincir matahari.

‘Idul Adha, yaitu salat sunah 2 raka’at yang dilakukan pada Hari Raya ‘Idul Adha (Hari Raya Qurban/Haji), yaitu setiap tanggal 10 Dzulhijjah Syawwal. Salat ini diadakan secara berjama’ah di masjid atau di tanah lapang, pada waktu setelah terbit matahari sampai tergelincir matahari.

Hukumnya Sunnah Muakkad. Adapun dalil naqlinya: QS. Al-Kautsar [108]: 2 dan beberapa hadits Rasulullah SAW.

Kaifiyyat (Tata Caranya):

  1. Membaca niat
  2. Melakukan takbiratul ihram, kemudian membaca do’a iftitah
  3. Membaca takbir 7 kali pada raka’at pertama dan dan bertakbir 5 kali pada raka’at yang kedua.
  4. Setelah takbir, maka membaca surat Al-Fatihah, kemudian disunahkan membaca surat Qaf atau Al-A’la pada raka’at pertama.   Sedangkan pada raka’at kedua, disunahkan membaca surat Al-Qamar atau Al-Gasyiyah.
  5. Setelah salat dikerjakan, kemudaian para jama’ah duduk dengan tertib untuk mendengarkan khutbah salat ‘Id

Sunah-sunnah Shalat Idain

  1. Mandi, Memakai wangi-wangian, dan berpakaian bagus
  2. Makan minum sebelum Idul Fitri dan tidak melakukannya sebelum idul Adha
  3. Mengumandangkan takbir ketika menuju tempat shalat
  4. Mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari tempat shalat

b.     Sholat Istisqo Sholat Istisqo adalah sholat sunah 2 roka’at untuk minta hujan dan dikerjakan secara berjama’ah di tanah lapang.

Kaifiyat/Tata Cara:

  1. Tiga  hari sebelum pelaksanaan sholat, hendaklah dilakukan puasa 3 hari, beramal sholih, melakukan perdamaian, dan menghindari kezaliman.
  2. Sholat 2 roka’at, seperti sholat ‘Id (Membaca takbir 7x pada roka’at I, dan 5x pada roka’at II)
  3. Ada Khutbah
  4. Berpakaian sederhana
  5. Memperbanyak istighfar dan bertaubat

c.      Sholat Gerhana

Shalat gerhana adalah shalat sunnah 2 rakaat yang dilakukan ketika ada peristiwa gerhana, baik gerhana bulan maupun gerhana matahari.  Shalat gerhana bulan disebut Khusuf dan gerhana matahari disebut kusuf. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk melaksanakan shalat ketika gerhana, tujuannya agar hambanya tidak menyembah bulan dan matahari, karena bulan dan matahari adalah ciptaan-Nya. Oleh karena itu manusia hendaknya sujud kepada Dzat yang menciptakan gerhana tersebut .

Firman Allah :

لاَتَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلاَلِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ….

Artinya : … Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya (Q.S.Fushilat [41]:37)

Hukum melaksanakannya sunnah muakad, bisa dilaksanakan secara berjamaah boleh juga dengan cara munfarid, jika dilaksanakan dengan berjamaah harus ada khotbah, sedangkan bila munfarid tidak usah ada khotbah. Akan tetapi pelaksanaannya disunnahkan secara berjamaah.

Kaifiyat/Tata Caranya:

  1. Niat karena Allah
  2. Sholat 2 roka’at, dengan 4 ruku’ (Setiap roka’at terdiri dari 2 ruku’, 2 I’tidal, dan 2 sujud. Setelah I’tidal, membaca Al-Fatihah lagi, lalu ruku’ dan I’tidal lagi) dan 4 sujud.
  3. Berkhutbah sesudah shalat

d.      Sholat Tarawih

Sholat Tarawih ialah sholat sunah malam (lail) yang dikerjakan sesudah sholat Isya pada malam bulan suci Ramadhan. Hukumnya sunnah muakkad dan dikerjakan secara berjama’ah. Tapi boleh juga dilakukan secara munfarid, dan dilakukan secara  berjamaah jauh lebih baik. Jumlah roka’atnya: 11 (8 roka’at tarawih + 3 roka’at witir) atau 23 roka’at (20 + 3).

مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَزِيْدُ فِيْ رَمَضَانَ وَلاَ فِيْ غَيْرِهِ عَلَى اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Tidak pernah Rasulullah SAW mengerjakan (tathowwu’) di bulan Ramadhon dan tidak lainnya lebih daripada 11 roka’at….” (HR. Muslim)

 e.       Sholat Witir  

Shalat witir adalah shalat sunah yang jumlah roka’atnya ganjil (minimal satu raka’at) sebagai akhir/penutup dari shalat sunnah lail yang dikerjakan seorang muslim setelah ‘Isya. Sholat Witir hukumnya sunnah mu’akkadah. Sabda Rasulullah SAW:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإذَا خَشِيَ أحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً

تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam dikerjakan dua raka’at-dua raka’at. Apabila salah seorang di antara kalian khawatir datangnya waktu Shubuh, maka hendaklah shalat witir satu raka’at sebagai pengganjil

shalat-shalat sebelumnya” (HR. Bukhori)

 Waktu Sholat Witir: Yaitu dari semenjak ‘Isya’ hingga sebelum Shubuh. Lebih utama apabila dikerjakan pada akhir malam setelah bangun tidur bagi yang mampu. Dan apabila dikhawatirkan tidak dapat bangun malam, maka dikerjakan sebelum tidur.

Sholat Sunnah Munfarid

a.      Sholat Tahiyyatul Masjid

Sholat Tahiyyatul Masjid adalah sholat sunah 2 roka’at tatkala seorang memasuki masjid sebagai penghormatan terhadap masjid, dilakukan sebelum duduk.

إذَا دَخَلَ اَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ

Dari Abu Qotadah, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian masuk ke masjid, maka janganlah duduk sebelum sholat 2 roka’at terlebih dahulu.” (HR. Bukhori)

b.      Sholat Rowatib

Shalat Rowatib Adalah salat sunah yang dilakukan sebelum (Qobliyah) maupun sesudah (Ba’diyah)  salat fardhu yang lima waktu.

Salat Rawatib Muakkad  

Shalat Rawatib Muakad adalah salat sunnah yang dipentingkan atau ditekankan. Jumlahnya 10 rakaat dan dilaksanakan dalam lima kali shalat. 2 raka’at sebelum (Qobliyah) Zhuhur 2 raka’at setelah (Ba’diyah) Zhuhur 2 raka’at setelah (Ba’diyah) Maghrib 2 raka’at setelah (Ba’diyah) Isya 2 raka’at sebelum (Qobliyah) Shubuh

Salat Rawatib Ghairu Muakkad

Shalat rawatib Ghair muakkad adalah sunnah yang kurang dipentingkan atau kurang ditekankan. Jumlahnya 12 rakaat dan dilaksanakan dengan lima kali shalat, yaitu : 2 raka’at sebelum (Qobliyah) Zhuhur 2 raka’at setelah (Ba’diyah) Zhuhur 4 rakaat sebelum (qobliyah) ashar 2 rakaat sebelum (qabliyah) maghrib 2        rakaat sebelum (qabliyah) isya

c.       Sholat Dhuha

Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dilaksanakan pada waktu matahari sepenggalan naik (Sekitar pukul 08.00 – 11.00 WIB), dapat juga ditentukan waktu shalat dhuha adalah waktu shubuh ditambah 2 jam lewat 10 menit sampai menjelang waktu dhuhur. Jumlah raka’at sholat Dhuha paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak 12 raka’at, setiap 2 rakaat diakhiri dengan 1 kali salam.

Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Pada pagi hari setiap tulang (persendian) dari kalian akan dihitung sebagai sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang dari berbuat munkar (nahi munkar) adalah sedekah. Semua itu cukup dengan dua rakaat yang dilaksanakan di waktu Dhuha.” [HR. Muslim, Abu Dawud dan riwayat Bukhari dari Abu Hurairah]

Setelah selesai shalat bacalah doa berikut ini :

اَللّهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَائُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللّهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَاءِ فَاَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَاَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسِّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِى مَااَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Artinya : “Ya Allah, bahwasannya waktu dhuha adalah waktu dhuhaMu dan keagungan adalah keagunganMU, dan keindahan adalah keindahanMU, dan kekuatan adalah kekuatanMU, dan kekuasaan adalah kekuasaanMU, dan perlindungan adalah perlindunganMU, Ya Allah, jika rizkiku ada di atas langit, maka turunkanlah, jika ada di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar, maka mudahkanlah, jika (ternyata) haram, maka sucikanlah, jika jauh, maka dekatkanlah, dengan berkat waktu dhuhaMU, keagunganMU, keindahanMU, kekuatanMU dan kekuasaanMU, limpahkanlah kepadaku segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambaMU yang sholeh.”

d.      Sholat Istikhoroh

Sholat Istikhoroh adalah sholat sunah 2 roka’at untuk meminta petunjuk Allah SWT atas 2 atau beberapa pilihan dari suatu urusan. Lebih utama dikerjakan pada malam hari. Jabir bin Abdillah ra. berkata: Adalah Rasulullah SAW mengajari kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana mengajari surah Al-Qur’an. Beliau bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunah (Istikharah) dua rakaat, kemudian bacalah doa ini:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّى حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ -أَوْ قَالَ: عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ -أَوْ قَالَ: عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengeta-hui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku atau -Nabi SAW bersabda: …di dunia atau akhirat- sukseskanlah untukku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja keba-ikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.”(HR. Al-Bukhari 7/162)  

e.       Sholat Tahajjud (Lail)  

Sholat Tahajud adalah sholat sunah yang dikerjakan sesudah bangun tidur pada malam hari (lail). Waktu sholat tahajud adalah mulai sesudah Isya’ sampai terbit fajar, dan yang paling utama pada 1/3 malam terakhir (Jam 01.00 s.d Shubuh). Bilangan roka’atnya: 2-8 roka’at.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

 (QS. Al-Isro’ [17]: 79)

Setelah selesai shalat bacalah doa berikut :

للّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

Artinya: “Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya. Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, Surga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari- Mu), peristiwa hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau”.

Hikmah Sholat Sunnah

  1. Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT
  2. Meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT
  3. Menjadi Wali Allah
  4. Mendapatkan pahala (27 derajat) dan do’a diterima
  5. Mempererat Ukhuwah Islamiyah/ persaudaraan antar kaum Muslimin

Demikianlah paparan materi tentang shalat sunnah ini semoga bermanfaat, Wallahu ‘Alam Sumber :

  1. Drs. Slamet Abidin, Fiqih Ibadah, Pustaka Setia, Bandung
  2. Dewi Aprianti, dkk, Pendidikan Agama Islam Kla IX, Bina Pustaka, Cibinong Bogor
  3. Drs. Soepardjo, Mutiara Akhlak Dalam PAI, Tiga Serangkai.
Iklan

6 Tanggapan to “Materi Ajar : Memahami Tata Cara Berbagai Shalat Sunnah”

  1. Satria said

    Semoga bermanfaat, amiin

    Suka

  2. Satria said

    Ass wr wb
    Ustadz … Kalau shalat dhuha boleh diberjamaah kan ga ?

    Suka

    • abifasya said

      Ada yang membolehkan dan ada yg menyebutnya sebagai bid’ah, yang membolehkan harus terpenuhi syaratnya, yaitu :
      1. Dilakukan kadang-kadang (tidak dijadikan kebiasaan)
      2. Tidak terikat hari, waktu, atau moment tertentu. Misalnya: dilaksanakan setiap selapan sekali (misalnya: setiap jum’at pon). Ketentuan hari semacam ini tidak dibolehkan.
      3. Tidak ada kesepakatan sebelumnya, atau tidak ada pengumuman kepada masyarakat.
      4. Tidak menjadi amalan yang menjamur dan banyak dilakukan masyarakat.
      5. Jumlah orang yang ikut berjamaah sedikit. Sehingga tidak boleh melaksanakan shalat dhuha berjamaah satu kampung, sebagaimana shalat fardhu.
      6. Tidak dilaksanakan bersama-sama di masjid.

      selengkapnya silahkan baca : http://www.konsultasisyariah.com/shalat-dhuha-berjamaah/#

      Suka

    • abifasya said

      Sementara bagi yg membolehkan berjamaah shalat dhuha bersumber pada haidts yang menceritakan bahwa Nabi pernah melakukan shalat dhuha berjamaah dengan para sahabat, selengkapnya lihat :
      http://konsultasi.wordpress.com/2009/03/30/sholat-dhuha-berjamaah-bolehkah/

      Suka

  3. Satria said

    Terimkasih kang sangat jelas

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: