Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Materi Ajar : Iman Kepada Qadla dan Qadar

Posted by abifasya pada 26 Februari 2014


Islamic Wallpapers (11)

Air yang menetes di daun pun adalah atas kehendak Allah

Beriman Kepada Qadla dan Qadar merupakan salah satu rukun Iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Selama manusia masih hidup pembicaraan tentang qadla dan qadar selalu menarik untuk dibicarakan.  Perlu diyakini bahwa apa pun yang terjadi di dunia dan yang menimpa diri manusia pasti telah digariskan oleh Allah Yang Mahakuasa dan Yang Mahabijaksana. Semua telah tercatat secara rapi dalam sebuah Kitab pada zaman azali. Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia. Dengan tidak adanya pengetahuan manusia tentang ketetapan dan ketentuan Allah ini, maka ia memiliki peluang atau kesempatan untuk berlomba-lomba menjadi hamba yang saleh-muslih, berusaha keras untuk mencapai yang dicita-citakan tanpa berpangku tangan menunggu takdir, dan berupaya memperbaiki citra diri.

1.       Pengertian dan Dalil Naqli

Menurut bahasa, qadla berarti ketentuan atau ketetapan. Menurut istilah qadla adalah ketentuan atau ketetapan Allah sejak zaman azali yang belum diketahui oleh Makhluk dan belum terlaksana.

Menurut bahasa qadar adalah jangka atau ukuran. Menurut istilah qadar adalah  ketentuan Allah yang telah terjadi pada makhluk sesuai dengan rencananya sezak zaman azali yang dicatat di lauhil mahfudz

Iman kepada Qodho dan Qodar adalah membenarkan dengan sesungguhnya bahwa yang terjadi –baik atau buruk- itu adalah atas Qodho dan Qodar Allah.

Seorang muslim wajib percaya sepenuhnya bahwa Allah SWT telah menetapkan takdir semua makhluk-Nya, termasuk takdir semua umat manusia: Rezeki, ajal, amal, bahagia, atau celakanya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَفِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ   لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَافَاتَكُمْ وَلاَتَفْرَحُوا بِمَآ ءَاتَاكُمْ وَاللهُ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (22). (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira  terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (23).” (QS. Al-Hadiid [57]: 22-23)

Demikian pula halnya, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ.

Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra.: “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata :  Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/ bahagianya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kemudian, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” ( HR. Muslim ).

2.       Hubungan antara Qadla dan Qadar

Qadar tidak akan terjadi jika tidak ada qadla, dengan demikian semua yang terjadi di alam semesta ini telah ditentukan Allah swt. Terlebih dahulu, yaitu di lauhil mahfudz. Maka bisa dikatakan hubungan antara qadla dan qadar adalah sebagai berikut :

  1. Qada merupakan perencanaa dari qadar, artinya segala sesuatu yang terjadi berawal dari sebuah perencanaan. Perencanaan itu disebut qada sedangkan pelaksanaannya disebut qadar
  2. Qadar tidak akan terjadi jika tidak ada qada, artinya tidak ada pelaksanaan jika perencanaanya tidak ada
  3. Qadar merupakan perwujudan dari qada, artinya pelaksanaan sesuatu itu merupakan tindak lanjut dari perencanaan.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa hubungan antara qadla dan qadar merupakan hubungan satu kesatuan yang tidak terpisahkan sebab qada merupakan ketentuan, kehendak, dan kemauan Allah swt., sedangkan qadar merupakan perwujudan dari kehendak itu. Qadla bersifat qadim sedangkan qadar bersifat hudus.

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antara qadla dan qadar itulah yang disebut taqdir. Sebagian ulama membagi taqdir menjadi dua macam, yaitu :

Taqdir Mubram, yaitu taqdir yang tidak bisa dirubah dan tidak dapat dielakan lagi kejadaiannya. Contoh : jenis kelamin, kematian, jodo, kelahiran dan lain-lain.

Taqdir Mu’alaq, yaitu taqdir yang pelaksanaannya tergantung pada usaha manusia atau dengan kata lain taqdir yang bisa dirubah dengan ikhtiar dan do’a yang diakhiri dengan tawakal. Contoh : Jika ingin kaya maka bekerjalah, jika ingin jadi juara berlatihlah dengan keras, jika ingin sembuh dari sakit berobatlah.

3.       Unsur Takdir

 ILMU : Mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara global maupun terperinci, azali dan abadi, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan para hamba-Nya.

KITABAH: Mengimani bahwa Allah telah menulis hal itu di “Lauh Mahfudz”.

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالأرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudzh)? Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.”(QS. Al Hajj  [22]: 70).

كتب الله مقادير الخلق قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة

“Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi            lima puluh ribu tahun.” (HR. Muslim).

MASYI’AH: Iman kepada masyi’ah (kehendak) Allah dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia  kehendaki tidak akan terjadi atas kekuasaan-Nya.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:

“Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yasin [36]: 82)

KHOLIQ: Mengimani bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu. Tidak ada Kholiq selain-Nya, dan tidak ada Robb (Tuhan) selain-Nya.

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar [39]: 62)

Apakah Kita Harus Pasrah pada Taqdir?

 Hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi I bersabda:

” ما منكم من أحد إلا قد كتب مقعده من النار أو الجنة، فقال رجل من القوم، ألا نتكل يا رسول الله؟ قال: لا  إعملوا كل ميسر، ثم قرأ

“Setiap diri kalian telah ditulis (ditetapkan) temmpatnya di sorga atau di neraka. Ada seorang sahabat bertanya : “Mengapa kita tidak tawaakal (pasrah) saja, wahai Rasulullah?” beliau mejawab : “tidak, berbuatlah karena masing-masing akan dimudahkan.” Lalu beliau membaca surat Al lail ayat 4-7 :

 إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى(٤)، فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى ، وَصَدَّقَ بِالحُسْنَى، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan   yang mudah.” (QS. Al-Lail: 4-7)

Selain itu, Allah SWT juga berfirman:

“…Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri….” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Hikmah Iman kepada Qodho dan Qodar

  • Manusia senantiasa berusaha/ikhtiar.
  • Giat beribadah dan berdo’a.
  • Bersandar kepada Allah SWT (tawakkal) ketika ikhtiar, karena segala sesuatu ditentukan dengan takdir-Nya.
  • Agar seseorang tidak lagi mengagumi dirinya/sombong ketika tercapai apa yang dicita-citakan.
  • Sabar dalam menghadapi cobaan.
  • Menumbuhkan sikap optimis.

Demikianlah pembahasan Iman Kepada Qadla dan Qadar ini, semoga bermanfaat

Wallahu ‘Alam

Sumber :

  1. Kuliah Aqidah Islam, Drs Yunahar Ilyas, LC
  2. Buku PAI Kelas IX Yudistira, Drs. Supardjo, dkk
  3. http://www.dakwatuna.com/2008/02/09/389/iman-kepada-qadha-dan-qadar/#axzz2uRkBntsh
Iklan

4 Tanggapan to “Materi Ajar : Iman Kepada Qadla dan Qadar”

  1. kang haris said

    Semoga saya bisa mengimani Qadla dan Qadar. Sikap “nggak nerima” terkadang menjadi masalah. Terima kasih atas ilmu yang indah. 🙂

    Suka

  2. PAIK said

    ada kebingungan dalam memahami materi ini, tapi semua harus dilalui. dan pada saat proses melalui dan menjalani taqdir inilah pada akhirnya menemukan ketetapan hati untuk semakin mantyapp mengimani-Nya

    Suka

  3. oke

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: