Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Mendidik dengan Hati

Posted by abifasya pada 31 Januari 2014


Een Sukaesih

Ibu Een Sang Guru Qolbu

“Mendidik  Dengan Hati”, kata-kata itu sungguh amat susah untuk dilaksanakan walaupun sebenarnya sangat mudah untuk diucapkan. Dan saya yakin semua orang yang menjadi guru punya keinginan untuk mengajar/mendidik muridnya dengan hati, tapi keinginan itu bagi sebagian guru hanya sebuah harapan yang sulit sekali untuk diwujudkan bahkan  mungkin saja bagi sebagian guru bukan hanya sulit tapi mustahil urantuk mewujudkan kenginan “mendidik dengan hati” kepada para muridnya.

Kenapa demikian ?, bagaimana bisa kita dikatakan telah berhasil mendidik dengan hati kepada murid-murid kita, kalau gelaran guru profesional yang kita sandang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Misalkan saat pertama kali keprofesionalan guru itu ditentukan dengan kelengkapa portofolio yang sepuluh instrumen itu, banyak diantara bapak/ibu  guru itu  menjadi pemburu sertifikat yang kegiatannya tidak pernah dilaksanakan. Atau saat sekarang sudah menjadi guru profesional kehadiran kita di sekolah tidak memenuhi kewajiban 37,5 jam, bahkan mungkin kelengkapan administrasi yang seharusnya kita buat (miliki) seperti silabus, RPP, dan lain-lain tidak pernah kita buat. Sementara kita juga rela (tega) meninggalkan anak didik kita untuk berdemo karena uang sertifikasi kita tidak cair.

Melihat fenomena seperti ini, saya sepakat denganProfesor Moh. Surya yang menyatakan bahwa ada empat level guru yang kita kenal di dalam dunia pendidikan kita. Tiap level tentu saja memiliki kapasitas dan kualitas yang berbeda, keempat level itu adalah :

  1.  Guru Aktual, yakni guru yang datang ke sekolah, ikut PLPG, terima sertifikasi mengajar, tapi batinya belum tentu menjadi guru. ia melaksanakan tugasnya semata-mata karena tuntutan formal guru.
  2. Guru Harmonis, yakni guru yang biasa mengajar dengan baik, tekun, rajin, bagus, tapi batinya tidak bermula ingin jadi guru, dan selalu cari kesempatan untuk keluar dari guru. Ia tampil sebagai guru dengan kemapuan memanipulasi kondisi dirinya untuk tampil sebagai guru yang baik. Dan dengan demikian ia nampak harmonis sebagai guru, meskipun tidak seluhruhnya bersumber dari kondisi pribadi yang dituntut sebagai guru. Kadang-kadang ada konflik antara kondisi pribadinya dengan tuntutan sebagai guru, namun dapat dimanipulasi sedemikian rupa sehingga nampak harmonis.
  3. Guru Karakter, yakni guru yang tampil penuh dengan karakternya. Yakni sosok guru yang mewujud berbasis karakter yang melekat dalam dirinya sebagai bagian dari keseluruhan kepribadiannya yang telah terbentuk sejak kecil dan bukan terbentuk karena pelatihan seperti PLPG, dan sebagainya. Dengan demikian penampilan kinerjanya sebagai guru sesuai, serasi, selaras, dan seimbang dengan karakter yang melekat dalam dirinya. Penampilannya sebagai guru sekaligus menampilkan kualitas karakternya.
  4. Guru Qolbu, yakni guru yang benar-benar jadi puncak, guru dengan level tertinggi. Yakni guru yang penampilannya berbasis kualitas qalbu atau hatinya, secara tulus ikhlas menjadi guru adalah bagian dari kebajikan yang tertanam dalam qolbunya.

Adakah guru yang sampai pada level ke empat yaitu Guru Qolbu ?, Prof. Moh Surya dengan bangga mencontohkan salah seorang mahsiswa di IKIP Bandung dulu yaitu ibu EEN SUKAESIH, seorang guru yang benar-benar sejatinya GURU QOLBU, fisiknya memang lumpuh, tapi batinya tetap manteng, selalu dan terus mencintai profesinya sebagai guru serta selalu mencintai anak didiknya.

Seorang guru yang telah sampai pada level guru qolbu dia tidak akan membeda-bedakan anak didiknya yang satu dengan yang lainnya, tidaklah seorang guru qolbu memberikan penilaian hasil belajar anak didiknya ditentukan oleh seberapa banyak pemberian orang tua tersebut kepadanya. Seorang guru Qolbu akan mendidik muridnya DENGAN HATI.

BISAKAH KITA SEMUA MENJADI GURU QOLBU ?

Nantikan jawabannnya pada postingan selanjutnya.Wassalam.

sumber : Een Sukaesih sang Guru Qolbu.

Sumber Gambar : Kampung Ciburuan

Iklan

4 Tanggapan to “Mendidik dengan Hati”

  1. sofiaputri77 said

    :”) semoga semua guru di indonesia seperti bu een… aminn

    Suka

  2. Fakhrurozi said

    Setuju dg sofiaputri, sangat berharap jika semua guru brmental seperti bu een “GURU QOLBU”

    Suka

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, AbiFasya….

    Level guru di atas memberi maklumat baru kepada saya untuk menilik diri di manakah saya berada. Masya Allah perjuangan Bu Een amat mengesankan untuk berusaha menjadi guru yang berkesan di mata dan di hati anak didik. Rasulullah SAW adalah contoh guru qalbu dan guru rohani yang paling unggul. Semoga para guru tahu apa yang perlu dilakukan dalam pendidikan mereka. bukannya menjadikan bidang pendidik sebagai kerja alternatif setelah tidak ada kerja lain hendak dilakukan.

    “Guru sebenar guru, ke sekolah tidak jemu, menajar tidak lesu.”

    Salam hormat dari Sarikei, Sarawak. 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: