Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Kata JIL: Jilbab Bukan Kewajiban Namun Pilihan

Posted by abifasya pada 12 Juni 2012


Pakailah Jilbab

Pakailah Jilbab

Jilbab adalah masalah fundamental yang bukanlah masalah furuโ€™iyyah sebagaimana dikira segelintir orang. Sampai-sampai para ulama berkata bahwa siapa yang menentang wajibnya jilbab, maka ia kafir dan murtad. Sedangkan orang yang tidak mau mengenakan jilbab karena mengikuti segelintir orang tanpa mengingkari wajibnya, maka ia adalah orang yang berdosa, namun tidak kafir.

Dalil yang Menunjukkan Wajibnya Jilbab

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ู‚ูู„ู’ ู„ูุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ูŽุงุจููŠุจูู‡ูู†ูŽู‘ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุนู’ุฑูŽูู’ู†ูŽ ููŽู„ูŽุง ูŠูุคู’ุฐูŽูŠู’ู†ูŽ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุบูŽูููˆุฑู‹ุง ุฑูŽุญููŠู…ู‹ุง

โ€œHai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh merekaโ€œ. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.โ€ (QS. Al Ahzab: 59). Ayat ini menunjukkan wajibnya jilbab bagi seluruh wanita muslimah.

Ayat lain yang menunjukkan wajibnya jilbab,

ู‚ูู„ู’ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูŽุบูุถูู‘ูˆุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุญู’ููŽุธููˆุง ููุฑููˆุฌูŽู‡ูู…ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฒู’ูƒูŽู‰ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุฎูŽุจููŠุฑูŒ ุจูู…ูŽุง ูŠูŽุตู’ู†ูŽุนููˆู†ูŽ (30) ูˆูŽู‚ูู„ู’ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ูŠูŽุบู’ุถูุถู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑูู‡ูู†ูŽู‘ ูˆูŽูŠูŽุญู’ููŽุธู’ู†ูŽ ููุฑููˆุฌูŽู‡ูู†ูŽู‘ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุจู’ุฏููŠู†ูŽ ุฒููŠู†ูŽุชูŽู‡ูู†ูŽู‘ ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽุง ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุถู’ุฑูุจู’ู†ูŽ ุจูุฎูู…ูุฑูู‡ูู†ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌููŠููˆุจูู‡ูู†ูŽู‘ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุจู’ุฏููŠู†ูŽ ุฒููŠู†ูŽุชูŽู‡ูู†ูŽู‘ ุฅูู„ูŽู‘ุง ู„ูุจูุนููˆู„ูŽุชูู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆู’ ุขูŽุจูŽุงุฆูู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆู’ ุขูŽุจูŽุงุกู ุจูุนููˆู„ูŽุชูู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุฆูู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุกู ุจูุนููˆู„ูŽุชูู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆู’ ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆู’ ุจูŽู†ููŠ ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆู’ ุจูŽู†ููŠ ุฃูŽุฎูŽูˆูŽุงุชูู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆู’ ู†ูุณูŽุงุฆูู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุง ู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชู’ ุฃูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ูู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆู ุงู„ุชูŽู‘ุงุจูุนููŠู†ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑู ุฃููˆู„ููŠ ุงู„ู’ุฅูุฑู’ุจูŽุฉู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑูู‘ุฌูŽุงู„ู ุฃูŽูˆู ุงู„ุทูู‘ูู’ู„ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุธู’ู‡ูŽุฑููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽูˆู’ุฑูŽุงุชู ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุถู’ุฑูุจู’ู†ูŽ ุจูุฃูŽุฑู’ุฌูู„ูู‡ูู†ูŽู‘ ู„ููŠูุนู’ู„ูŽู…ูŽ ู…ูŽุง ูŠูุฎู’ูููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฒููŠู†ูŽุชูู‡ูู†ูŽู‘ ูˆูŽุชููˆุจููˆุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ู„ูŽุนูŽู„ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุชููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ (31)

โ€œKatakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: โ€œHendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuatโ€. ย Katakanlah kepada wanita yang beriman: โ€œHendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.โ€ (QS. An Nur: 30-31).

Dalil yang menunjukkan wajibnya jilbab adalah hadits Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

ุนูŽู†ู’ ุฃูู…ูู‘ ุนูŽุทููŠูŽู‘ุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุฃูู…ูุฑู’ู†ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ู†ูุฎู’ุฑูุฌูŽ ุงู„ู’ุญููŠูŽู‘ุถูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุนููŠุฏูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุฐูŽูˆูŽุงุชู ุงู„ู’ุฎูุฏููˆุฑู ุŒ ููŽูŠูŽุดู’ู‡ูŽุฏู’ู†ูŽ ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽุฏูŽุนู’ูˆูŽุชูŽู‡ูู…ู’ ุŒ ูˆูŽูŠูŽุนู’ุชูŽุฒูู„ู ุงู„ู’ุญููŠูŽู‘ุถู ุนูŽู†ู’ ู…ูุตูŽู„ุงูŽู‘ู‡ูู†ูŽู‘ . ู‚ูŽุงู„ูŽุชู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉูŒ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุŒ ุฅูุญู’ุฏูŽุงู†ูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุฌูู„ู’ุจูŽุงุจูŒ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ู„ูุชูู„ู’ุจูุณู’ู‡ูŽุง ุตูŽุงุญูุจูŽุชูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฌูู„ู’ุจูŽุงุจูู‡ูŽุง ยป

Dari Ummu โ€˜Athiyyah, ia berkata, โ€œPada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haid harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya:, โ€œWahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?โ€ Beliau menjawab, โ€œHendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.โ€ (HR. Bukhari no. 351 dan Muslim no. 890).

Para ulama sepakat (berijmaโ€™) bahwa berjilbab itu wajib. Yang mereka perselisihkan adalah dalam masalah wajah dan kedua telapak tangan apakah wajib ditutupi.

Inilah Jilbab Yang Sebenarnya

Apa Itu Jilbab?

Dalam Lisanul โ€˜Arob, jilbab adalah pakaian yang lebar yang lebih luas dari khimar (kerudung) berbeda dengan selendang (ridaโ€™) dipakai perempuan untuk menutupi kepala dan dadanya. Jadi kalau kita melihat dari istilah bahasa itu sendiri, jilbab adalah seperti mantel karena menutupi kepala dan dada sekaligus.

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa jilbab adalah pakaian atas (ridaโ€™) ย yang menutupi khimar. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Masโ€™ud, โ€˜Ubaidah, Al Hasan Al Bashri, Saโ€™id bin Jubair, Ibrahim An Nakhoโ€™i, dan โ€˜Athoโ€™ Al Khurosaani. Untuk saat ini, jilbab itu semisal izar (pakaian bawah). Al Jauhari berkata bahwa jilbab adalah โ€œmilhafahโ€ (kain penutup).

Asy Syaukani rahimahullah berkata bahwa jilbab adalah pakaian yang ukurannya lebih besar dari khimar. ย Ada ulama yang katakan bahwa jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh badan wanita. Dalam hadits shahih dari โ€˜Ummu โ€˜Athiyah, ia berkata, โ€œWahai Rasulullah, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab.โ€ Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam lantas bersabda,

ู„ูุชูู„ู’ุจูุณู’ู‡ูŽุง ุฃูุฎู’ุชูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฌูู„ู’ุจูŽุงุจูู‡ูŽุง

โ€œHendaklah saudaranya mengenakan jilbab untuknya.โ€ Al Wahidi mengatakan bahwa pakar tafsir mengatakan, โ€œYaitu hendaklah ia menutupi wajah dan kepalanya kecuali satu mata saja.โ€

Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Zaadul Masiir memberi keterangan mengenai jilbab. Beliau nukil perkataan Ibnu Qutaibah, di mana ia memberikan penjelasan, โ€œHendaklah wanita itu mengenakan ridaโ€™nya (pakaian atasnya).โ€ Ulama lainnya berkata, โ€œHendaklah para wanita menutup kepala dan wajah mereka, supaya orang-orang tahu bahwa ia adalah wanita merdeka (bukan budak).โ€

Syaikh As Saโ€™di rahimahullah menerangkan bahwa jilbab adalah milhafah (kain penutup atas), khimar, ridaโ€™ (kain penutup badan atas) atau selainnya yang dikenakan di atas pakaian. Hendaklah jilbab tersebut menutupi diri wanita itu, menutupi wajah dan dadanya.

Kita pun dapat menyaksikan praktek jilbab di masa salaf dahulu.

ู‚ุงู„ ุนู„ูŠ ุจู† ุฃุจูŠ ุทู„ุญุฉุŒ ุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ: ุฃู…ุฑ ุงู„ู„ู‡ ู†ุณุงุก ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ุฅุฐุง ุฎุฑุฌู† ู…ู† ุจูŠูˆุชู‡ู† ููŠ ุญุงุฌุฉ ุฃู† ูŠุบุทูŠู† ูˆุฌูˆู‡ู‡ู† ู…ู† ููˆู‚ ุฑุคูˆุณู‡ู† ุจุงู„ุฌู„ุงุจูŠุจุŒ ูˆูŠุจุฏูŠู† ุนูŠู†ู‹ุง ูˆุงุญุฏุฉ.

โ€˜Ali bin Abi Tholhah berkata, dariย  Ibnu โ€˜Abbas, ia berkata, โ€œAllah telah memerintahkan kepada wanita beriman jika mereka keluar dari rumah mereka dalam keadaan tertutup wajah dan atas kepala mereka dengan jilbab dan yang nampak hanyalah satu mata.โ€

ูˆู‚ุงู„ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุณูŠุฑูŠู†: ุณุฃู„ุช ุนูŽุจูŠุฏุฉูŽ ุงู„ุณู‘ู„ู…ุงู†ูŠ ุนู† ู‚ูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: { ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ุงุจููŠุจูู‡ูู†ูŽู‘ } ุŒ ูุบุทู‰ ูˆุฌู‡ู‡ ูˆุฑุฃุณู‡ ูˆุฃุจุฑุฒ ุนูŠู†ู‡ ุงู„ูŠุณุฑู‰.

Muhammad bin Sirin berkata, โ€œAku pernah bertanya pada As Salmani mengenai firman Allah Taโ€™ala (yang artinya), โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh merekaโ€, lalu beliau berkata, โ€œHendaklah menutup wajah dan kepalanya, dan hanya menampakkan mata sebelah kiri.โ€

Pandangan Kalangan Liberal Mengenai Jilbab

Salah satu tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal), Siti Musdah Mulia, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah (Ciputat, Banten) punya beberapa pendapat yang nyleneh mengenai jilbab dan ia terkenal dengan pemikiran kebebasannya. Dalam talkshow dan bedah buku yang berjudul โ€œPsychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas Jilbab)โ€, juga di forum lainnya, beliau mengeluarkan beberapa pendapat kontroversial mengenai jilbab yang kami rinci sebagai berikut:

Pertama: Menurut Bu Profesor Musdah Mulia, guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat, realitas sosiologis di masyarakat, jilbab tidak menyimbolkan apa-apa, tidak menjadi lambang kesalehan dan ketakwaan. Tidak ada jaminan bahwa pemakai jilbab adalah perempuan shalehah, atau sebaliknya perempuan yang tidak memakai jilbab bukan perempuan shalehah. Jilbab tidak identik dengan kesalehan dan ketakwaan seseorang.

Sanggahan:

Bagaimana mungkin kita katakan jilbab bukanlah lambang kesalehan dan ketakwaan. Orang liberal biasa hanya pintar berkoar-koar tetapi tidak pernah ilmiah. Kalau mau ilmiah, yah seharusnya berhujjah dengan dalil. Ibnul Qayyim menukilkan perkataan seorang penyair:

ุงู„ุนู„ู… ู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ู‡

โ€œIlmu adalah apa kata Allah, apa kata Rasul-Nya.โ€ Jadi kalau bukan Al Qurโ€™an dan hadits yang dibawa namun hanya pintar omong, maka itu berarti tidak ilmiah.

Bagaimana dikatakan berjilbab bukan lambang ketakwaan? Sedangkan takwa sebagaimana kata Tholq bin Habib,

ุงู„ุชูŽู‘ู‚ู’ูˆูŽู‰ : ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ูŽ ุจูุทูŽุงุนูŽุฉู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ููˆุฑู ู…ูู†ู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุฑู’ุฌููˆ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูŽุชู’ุฑููƒูŽ ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ููˆุฑู ู…ูู†ู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุฎูŽุงููŽ ุนูŽุฐูŽุงุจูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู

โ€œTakwa: engkau melakukan ketaatan pada Allah atas cahaya dari Allah dalam rangka mengharap rahmat Allah dan engkau meninggalkan maksiat pada Allah atas cahaya dari Allah dalam rangka takut akan adzab Allah.โ€ ย Bukankah kewajiban mengenakan jilbab sudah diperintahkan dalam ayat,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ู‚ูู„ู’ ู„ูุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ูŽุงุจููŠุจูู‡ูู†ูŽู‘

โ€œHai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh merekaโ€œ (QS. Al Ahzab: 59). Juga dalam ayat,

ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุถู’ุฑูุจู’ู†ูŽ ุจูุฎูู…ูุฑูู‡ูู†ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌููŠููˆุจูู‡ูู†ูŽู‘

โ€œDan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanyaโ€(QS. An Nur: 31).ย Ini jelas perintah dan menjalankan perintah adalah bagian dari ketakwaan dan bentuk taat pada Allah.

Enggan berjilbab jelas termasuk maksiat karena dalam ayat setelah menerangkan sifat mulia wanita yang berjilbab ditutup dengan,

ูˆูŽุชููˆุจููˆุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ู„ูŽุนูŽู„ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุชููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ

โ€œDan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.โ€ (QS. An Nur: 31). Kalau disuruh bertaubat berarti tidak berjilbab termasuk maksiat. Lantas bagaimana dikatakan berjilbab bukan bagian dari takwa? Sungguh aneh jalan pikirannya.

Jika jilbab bukan lambang ketakwaan karena ada yang berjilbab bermaksiat, maka kita boleh saja menyatakan shalat juga bukan lambing ketakwaan karena ada yang shalat namun masih bermaksiat. Namun tidak ada yang berani menyatakan untuk shalat pun demikian. Jadi, tidak jelas bagaimana cara berpikir para pengagum kebebasan (orang liberal).

Kata Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat terakhir di atas, yang namanya keberuntungan diraih dengan melakukan perintah Allah dan Rasul-Nya dan meninggalkan yang dilarang. Jadi, biar selamat di akhirat dan selamat dari jilatan neraka, maka berjilbablah.

Kedua: Bu Profesor yang sangat mengagumi Gus Dur berkata pula, โ€œTidaklah keliru jika dikatakan bahwa jilbab dan batas aurat perempuan merupakan masalah khilafiyah yang tidak harus menimbulkan tuduh menuduh apalagi kafir mengkafirkan. Mengenakan, tidak mengenakan, atau menanggalkan jilbab sesungguhnya merupakan pilihan, apapun alasannya. Yang paling bijak adalah menghargai dan menghormati pilihan setiap orang, tanpa perlu menghakimi sebagai benar atau salah terhadap setiap pilihan.โ€

Ibu Musdah menyampaikan pula, โ€œKalau begitu, jelas bahwa menggunakan jilbab tidak menjadi keharusan bagi perempuan Islam, tetapi bisa dianggap sebagai cerminan sikap kehati-hatian dalam melaksanakan tuntutan Islam. Kita perlu membangun sikap apresiasi terhadap perempuan yang atas kerelaannya sendiri memakai jilbab, sebaliknya juga menghargai mereka yang dengan pilihan bebasnya melepas atau membuka kembali jilbabnya. Termasuk mengapresiasi mereka yang sama sekali tidak tertarik memakai jilbab.โ€

Sanggahan:

Waw โ€ฆ satu lagi pendapat yang aneh. Bagaimana bisa dikatakan jilbab adalah suatu pilihan bukan suatu kewajiban?

Ayat-ayat yang menerangkan wajibnya jilbab sudah jelas. Hadits pun mengiyakannya. Begitu pula ijmaโ€™ para ulama menyatakan wajib bagi wanita menutup seluruh badannya dengan jilbab kecuali terdapat perselisihan pada wajah dan kedua telapak tangan. Sebagian ulama menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan juga wajib ditutup. Sebagaian lain mengatakan bahwa wajah dan telapak tangan boleh dibuka, namun menutupnya adalah sunnah (bukan wajib). Dalil keduanya sama-sama kuat, jadi tetap kedua pendapat tersebut mewajibkan jilbab, namun diperselisihkan manakah yang boleh ditampakkan.

Jadi batasan aurat wanita memang ada khilaf apakah wajah dan telapak tangan termasuk aurat. Namun para ulama sepakat akan wajibnya jilbab. Sehingga pendapat Bu Profesor barangkali perlu dirujuk kembali dan harus membuktikan keilmiahannya, bukan hanya asal berkoar.

Kalau jilbab telah dinyatakan wajib, maka tidak ada kata tawar menawar atau dijadikan pilihan. Kalau dipaksakan dalam Perda agar para pegawai berjilbab, itu langkah yang patut didukung. Bukan malah seperti kata JIL yang menganggap Perda tersebut malah mengekang wanita.

Begitu pula tidak boleh mengapresiasi orang yang memamerkan lekuk tubuhnya, gaya rambut dan pamer aurat. Karena perbuatan mereka patut diingkari. Jika punya kekuasaan (sebagai penguasa), maka diingkari dengan tangan. Jika tidak mampu, maka dengan lisan dan tulisan sebagai peringatan dan pengingkaran. Jika tidak mampu, maka wajib diingkari dengan hati. Jika dengan hati tidak ada pengingkaran malah memberikan apresiasi, maka ini jelas tanda persetujuan pada kemungkaran dan tanda bermasalahnya iman. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa salam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ุฑูŽุฃูŽู‰ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู‹ุง ููŽู„ู’ูŠูุบูŽูŠูู‘ุฑู’ู‡ู ุจููŠูŽุฏูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุจูู„ูุณูŽุงู†ูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุจูู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุถู’ุนูŽูู ุงู„ุฅููŠู…ูŽุงู†ู

โ€œBarangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia merubah hal itu dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, hendaknya dia ingkari dengan hatinya dan inilah selemah-lemah iman.โ€ (HR. Muslim no. 49)

Ketiga: Bu Musdah juga mengemukakan kesimpulan dari Forum Pengkajian Islam UIN Sharif Hidayatullah tahun 1998: โ€œHukum Islam tidak menunjukkan batas aurat yang wajib ditutup, tetapi menyerahkan hal itu kepada masing-masing orang sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan.โ€

Sanggahan:

Ini juga pendapat beliau yang sama dengan sebelumnya. Kalau demikian adanya, maka berarti terserah kita menentukan manakah pakaian muslimah. Kalau di Arab pakai abaya dan hitam-hitam disertai cadar. Kalau di Indonesia, cukup kebaya. Kalau di Barat, tidak mengapa memakai pakaian renang. Apalagi di musim panas, cukup pakai celana pendek (yang terlihat paha) dan baju โ€œu can seeโ€. Karena semua dikembalikan pada individu masing-masing dan dilihat kondisi dan kebutuhan, tidak ada standar baku. Beda halnya jika yang jadi patokan adalah firman Allah dan sabda Rasul โ€“shallallahu โ€˜alaihi wa sallam-, maka jelas patokannya.

Keempat: Beliau kembali berkata, โ€œJika teks-teks tentang jilbab tersebut dibaca dalam konteks sekarang, terlihat bahwa perempuan tidak perlu lagi memakai jilbab hanya sekadar agar mereka dikenali, atau mereka dibedakan dari perempuan yang berstatus budak, atau agar mereka tidak diganggu laki-laki jahat. Di masa sekarang, tidak ada lagi perbudakan, dan busana bukan ukuran untuk menetapkan identitas seseorang,โ€ tandasnya nyleneh.

Bu Musdah juga mengatakan, โ€œJika perlindungan itu tidak dibutuhkan lagi karena sistem keamanan yang sudah sedemikian maju dan terjamin, tentu perempuan dapat memilih secara cerdas dan bebas apakah ia masih mau mengenakan jilbab atau tidak.โ€

Sanggahan:

Yang beliau singgung di sini adalah surat Al Ahzab berikut:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ู‚ูู„ู’ ู„ูุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ูŽุงุจููŠุจูู‡ูู†ูŽู‘ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุนู’ุฑูŽูู’ู†ูŽ ููŽู„ูŽุง ูŠูุคู’ุฐูŽูŠู’ู†ูŽ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุบูŽูููˆุฑู‹ุง

โ€œHai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh merekaโ€. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.โ€ (QS. Al Ahzab: 59)

Mari kita simak kalam ulama salaf mengenai tafsiran ayat di atas.

As Sudi rahimahullah mengatakan, โ€œDahulu orang-orang fasik di Madinah biasa keluar di waktu malam ketika malam begitu gelap di jalan-jalan Madinah. Mereka ingin menghadang para wanita. Dahulu orang-orang miskin dari penduduk Madinah mengalami kesusahan. Jika malam tiba para wanita (yang susah tadi) keluar ke jalan-jalan untuk memenuhi hajat mereka. Para orang fasik sangat ingin menggoda para wanita tadi. Ketika mereka melihat para wanita yang mengenakan jilbab, mereka katakan, โ€œIni adalah wanita merdeka. Jangan sampai menggagunya.โ€ Namun ketika mereka melihat para wanita yang tidak berjilbab, mereka katakan, โ€œIni adalah budak wanita. Mari kita menghadangnya.โ€

Mujahid rahimahullah berkata, โ€œHendaklah para wanita mengenakan jilbab supaya diketahui manakah yang termasuk wanita merdeka. Jika ada wanita yang berjilbab, orang-orang yang fasik ketika bertemu dengannya tidak akan menyakitinya.โ€

Penjelasan para ulama di atas menerangkan firman Allah mengenai manfaat jilbab,

ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุนู’ุฑูŽูู’ู†ูŽ

โ€œYang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal.โ€ (QS. Al Ahzab: 59)

Asy Syaukani rahimahullah menerangkan, โ€œAyat (yang artinya), โ€ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenalโ€, bukanlah yang dimaksud supaya salah satu di antara mereka dikenal, yaitu siapa wanita itu. Namun yang dimaksudkan adalah supaya mereka dikenal, manakah yang sudah merdeka, manakah yang masih budak. Karena jika mereka mengenakan jilbab, itu berarti mereka mengenakan pakaian orang merdeka.โ€

Inilah yang membedakan manakah budak dan wanita merdeka dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa wanita yang tidak berjilbab berarti masih menginginkan status dirinya sebagai budak. Bahkan Ibnu Katsir mengatakan bahwa jilbab bertujuan bukan hanya untuk membedakan dengan budak, bahkan dengan wanita jahiliyah. ย Sehingga orang yang tidak berjilbab malah kembali ke zaman jahiliyah. Yang dimaksud zaman jahiliyah adalah masa sebelum diutusnya Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Disebut jahiliyah karena berada dalam zaman penuh kebodohan dan kesesatan sebagaimana disebutkan dalam kamus Al Muโ€™jam Al Wasith.

Coba bandingkan, manakah yang lebih paham Qurโ€™an, As Sudi dan Mujahid yang terkenal dengan keahliannya dalam ilmu tafsir dan juga Asy Syaukani yang tidak perlu lagi diragukan ilmunya, ataukah professor kemarin sore yang biasa memplintir ayat? Tentu saja yang kita ikuti adalah yang lebih salaf dari Bu Musdah Mulia. Seorang sahabat yang mulia, โ€˜Abdullah bin Masโ€™ud radhiyallahu โ€˜anhu berkata,

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูุณู’ุชูŽู†ู‹ู‘ุง ููŽู„ู’ูŠูŽุณู’ุชูŽู†ูŽู‘ ุจูู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุฏู’ ู…ูŽุงุชูŽ ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽู‘ ู„ูŽุง ุชูุคู’ู…ูŽู†ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ู’ููุชู’ู†ูŽุฉู

โ€œSiapa saja di antara kalian yang ingin mengikuti petunjuk, maka ambillah petunjuk dari orang-orang yang sudah mati. Karena orang yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah.โ€ Benarlah kata Ibnu Masโ€™ud, lebih terfitnah lagi atau lebih rusak jika yang diambil perkataan adalah orang JIL yang muara logikanya tidak jelas dan tanpa pernah mau merujuk pada dalil atau perkataan ulama, maunya mengandalkan logikanya saja. Biar kita selamat, ambillah perkataan salaf daripada mengambil perkataan JIL yang logikanya asal-asalan.

Jikalau mau dikatakan bahwa wanita muslimah tidak butuh identitas jilbab lagi untuk saat ini. Maka jawabnya, justru sangat butuh. Karena dengan jilbab seorang wanita lebih mudah dikenal, ia muslim ataukah bukan. Bahkan lebih mudah dikenal ia wanita baik-baik ataukah wanita nakal melalui jilbabnya.

Jika Bu Musdah Mulia menganggap bahwa jilbab hanya bertujuan agar tidak diganggu laki-laki dan sekarang keamanan wanita sudah terjamin. Jawabnya, sudah terjamin dari mana? Justru kalau kita buat persentase, yang tidak berjilbab itu yang lebih banyak jadi korban perkosaan. Maka benarlah firman Allah,

ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุนู’ุฑูŽูู’ู†ูŽ ููŽู„ูŽุง ูŠูุคู’ุฐูŽูŠู’ู†ูŽ

โ€œYang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.โ€ (QS. Al Ahzab: 59). Kita bandingkan perkataan Bu Musdah dengan seorang ulama. Syaikh As Saโ€™di rahimahullah berkata, โ€œAyat di atas menunjukkan, orang yang tidak mengenakan jilbab akan lebih mudah digoda. Karena jika seorang wanita tidak berjilbab, maka orang-orang akan mengira bahwa ia bukanlah wanita โ€˜afifaat (wanita yang benar-benar menjaga diri atau kehormatannya). Akhirnya orang yang punya penyakit dalam hatinya muncul hal yang bukan-bukan, lantas mereka pun menyakitinya dan menganggapnya rendah seperti anggapan mereka itu budak. Akhirnya orang-orang yang ingin berlaku jelek merendahkannya.โ€ Apa yang disebutkan oleh Syaikh As Saโ€™di memang benar dan sesuai realita di lapangan.

So โ€ฆ apa dengan alasan Bu Musdah seperti itu, jilbab mesti dilepas karena wanita sekarang tidak butuh identitas semacam itu? Silakan kita memilih, perkataan Bu Profesor ini lebih diikuti ataukah firman Allah, sabda Rasul dan perkataan ulama yang jelas lebih tinggi ilmunya dan pemahaman agamanya dibanding Ibu Profesor.

Kelima: โ€œPerempuan beriman tentu secara sadar akan memilih busana sederhana dan tidak berlebih-lebihan sehingga menimbulkan perhatian publik, dan yang pasti juga tidak untuk pamer (riya)โ€, ujar Bu Musdah Mulia.

Sanggahan:

Bagaimana bisa berjilbab disebut riyaโ€™? Aneh โ€ฆ

Sebagaimana laki-laki jika ia diwajibkan shalat jamaโ€™ah di masjid, apa kita katakan ia riyaโ€™ jika pergi ke masjid? Jika seseorang ingin pergi shalat โ€˜ied ke lapangan, apa juga disebut riyaโ€™?

Jadi dengan alasan Bu Musdah, laki-laki tidak usah pergi ke masjid untuk berjamaโ€™ah. Begitu pula kita tidak perlu shalat โ€˜ied di tanah lapang karena khawatir riyaโ€™.

Justru kita katakan bahwa untuk amalan wajib yang harus ditampakkan, maka wajib ditampakkan.

Kata Al-Izz bin โ€˜Abdus Salam, amalan yang disyariatkan untuk ditampakkan seperti adzan, iqomat, ucapan takbir ketika shalat, membaca Qurโ€™an secara jahr dalam shalat jahriyah (Maghrib, Isyaโ€™ dan Shubuh, pen), ketika berkhutbah, amar maโ€™ruf nahi mungkar, mendirikan shalat jumโ€™at dan shalat secara berjamaah, merayakan hari-hari โ€˜ied, jihad, mengunjungi orang-orang yang sakit, dan mengantar jenazah, maka amalan semacam ini tidak mungkin disembunyikan. Jika pelaku amalan-amalan tersebut takut berbuat riya, maka hendaknya ia berusaha keras untuk menghilangkannya hingga dia bisa ikhlas dalam beramal. Sehingga dengan demikian dia akan mendapatkan pahala amalannya dan juga pahala karena kesungguhannya menghilangkan riyaโ€™ tadi, karena amalan-amalan ini maslahatnya juga untuk orang lain.

Jika demikian, maka jilbab itu wajib ditampakkan dan itu bukanlah riyaโ€™. Bahkan kata Fudhail bin โ€˜Iyadh,

ุชูŽุฑู’ูƒู ุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ู„ูุฃูŽุฌู’ู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุฑููŠูŽุงุกูŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ู„ูุฃูŽุฌู’ู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุดูุฑู’ูƒูŒ

โ€œMeninggalkan amalan karena manusia termasuk riyaโ€™. Melakukan amalan karena manusia termasuk syirik.โ€

Keenam: Bu Musdah Mulia juga berkata, โ€œMemakai jilbab bukanlah suatu kewajiban bagi perempuan Islam. Itu hanyalah ketentuan Al Qurโ€™an bagi para istri dan anak-anak perempuan Nabi.โ€

Sanggahan:

Bagaimana dikatakan jilbab hanya untuk anak dan istri nabi, sedangkan dalam ayat sudah dijelaskan pula secara terang bagi wanita beriman,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ู‚ูู„ู’ ู„ูุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ

โ€œHai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin โ€ฆโ€ (QS. Al Ahzab: 59). Ayat hijab ini secara jelas menunjukkan perintah tersebut ditujukan pula untuk orang-orang beriman, namun terkhususkan pada istri dan anak Nabi.

Taruhlah jika perintah tersebut hanya untuk istri Nabi dan anak-anaknya. Kita dapat berikan jawaban bahwa jika untuk istri dan anak beliau saja diperintahkan untuk berjilbab padahal ada Nabi di sini mereka yang jelas mereka lebih terjaga dari gangguan, maka tentu wanita lainnya lebih pantas untuk menutup dirinya dengan jilbab. Lebih dari itu, jilbab adalah sebagai tanda kemulian istri dan anak Nabi. Jadi, barangsiapa ingin mulia, berjilbablah dengan segera.

Ketujuh: Beliau menyatakan pula, โ€œAsbab nuzul ayat-ayat tentang perintah jilbab disimpulkan Musdah, bahwa jilbab lebih bernuansa ketentuan budaya ketimbang ajaran agama. Sebab, jika jilbab memang diterapkan untuk perlindungan atau meningkatkan prestige kaum perempuan beriman, maka dengan demikian dapatlah dianggap bahwa jilbab merupakan sesuatu yang lebih bernuansa budaya daripada bersifat religi.โ€

Sanggahan:

Tidak sedikit komentar kaum penentang jilbab mengatakan, kalau jilbab adalah hasil adopsi budaya bangsa Arab. Sehingga menurut mereka, bangsa yang di luar Arab, tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti budaya Arab.

Jika katakan jilbab adalah budaya Arab, maka kita mesti lihat sejarah Arab sebelum Islam itu datang. Kalau kita lihat penjelasan ulama, ternyata menunjukkan bahwa jilbab itu datang ketika Islam itu ada. Karena sebelumnya di zaman jahiliyah, wanita itu telanjang dada. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, โ€œPerempuan pada zaman jahiliyah biasa melewati laki-laki dengan keadaan telanjang dada, tanpa ada kain sedikit pun. Kadang-kadang mereka memperlihatkan leher, rambut dan telinganya. Kemudian Allah akhirnya memerintahkan wanita beriman untuk menutupi diri dari hal-hal semacam tadi.

Jelas sudah, kalau jilbab yang dianjurkan Islam beda jauh dengan budaya Arab. Lalu ada alasan lainkah yang mengatakan jilbab itu sebuah budaya Arab? Jika merujuk pada jilbab yang menutup aurat, jelas Islam lah yang menggagasnya.

Ayat-ayat dan hadits yang telah kami jelaskan di awal sudah menunjukkan bahwa jilbab adalah bukan budaya arab, namun ajaran Islam yang langsung diperintahkan oleh Allah. Ajaran Islam bersifat universal untuk orang Arab dan non Arab sebagaimana Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ู’ู†ูŽุงูƒูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ู„ูู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ

โ€œDan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alamโ€(QS. Al Anbiyaโ€™: 107). Ibnu Jarir Ath Thobari berkata bahwa tidaklah Nabi Muhammad itu diutus melainkan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk Allah yang beliau diutus kepadanya.

Demikian beberapa penjelasan sebagai sanggahan pada beberapa syubhat atau kerancuan yang biasa disampaikan orang-orang Liberal atau JIL. Moga Allah terus menguatkan iman kita dengan akidah dan pemahaman agama yang benar, serta menghindarkan kita dari pemahaman orang-orang yang tak tahu arah.

Wallahu waliyyut taufiq.

Sumber dua artikel bersambung dari : muslim.or.id

Iklan

10 Tanggapan to “Kata JIL: Jilbab Bukan Kewajiban Namun Pilihan”

  1. yantu said

    emang JIL itu perlu diberikan pelajaran, sok pinter padahal kblinger

    Suka

  2. Asslalmu ‘Alaikum
    Gak usah terlalu dihiraukan masalah ini kawan, boartkanlah JIL sesat dengan sendirinya. dan kita tanamkan aqidah yang benar, pada anak2 didik kita.

    Suka

  3. Damang juragan @Farhan ?!

    Suka

  4. jaka said

    Salam Kenal Ya Semuanya g terkecuali dari sabang sampe merauke deh.. hehe.. ๐Ÿ™‚

    Suka

  5. puisi said

    pandangan kadang berbeda, tapi menurut saya Jilbab bukan saja penutup kepala tapi merupakan simbol. Dimana kaum hawa yg memakai jilbab harus sepenuhnya menjaga perilaku dan menutup aurat secara keseluruhan. dgn memakai jilbab otomatis dia harus punya niat untuk menjaga tingkah lakunya kepada yg mengarah kpd kebaikan. banyak juga kaum hawa yg memakai jilbab hanya untuk kedok biar dibilang solehah. kembali lagi kepada diri masing2 dan pemahaman dari hukum memakai jilbab tsb. salam kunjungan

    Suka

  6. Reblogged this on pena buguru.

    Suka

  7. Anda mengetahui apa yang sharusnya tidak dilakukan ketika Anda “gagal”. Jadi Anda menciptakan pengetahuan baru dan itu bukan kegagalan.

    Suka

  8. Sadarilah mengeluh tidak menyelesaikan apapun Mengeluh hanya akan menambah beban dihati Berhentilah mengeluh segera bertindak!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: