Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Makhluk Itu Bernama “Lesson Study”

Posted by abifasya pada 12 Oktober 2011


Guru Model

Walaupun sudah cukup lama mengajar, tapi kalau saat mengajar itu disaksikan oleh puluhan observer perasaan “ngadegdeg” mah pasti aya wae da  teu beunang dipapalerkeun. Walaupun dari awal telah dijelaskan oleh fasilitator bahwa kegiatan lesson study ini yang dijadikan target observasi adalah peserta didik bukan guru tapi keukeuh we nu ngarana degdegan saat akan memulai mengajar mah aya wae. Akan tetapi begitu selesai SATAKA (salam tanya kabar) debaran di hati ini terus berkurang dan bahkan tidak ada. Dan kini begitu kegiatan lesson study itu selesai meni asa bucat bisul genah tumakninah we pokokna mah, apalagi setelah selesai refleksi panitia memberikan amplop berisikan beberapa lembar uang seri sukarno-hatta (moal dibejaan sabaraha lambar lobana). Ternyata perasaan deg-degan itu bukan hanya dirasakan oleh saya teman-teman yang lain yang sama-sama menjadi guru model juga merasakan hal yang sama, bagaimana tidak ?, observer dan fasilitator terdiri dari orang-orang yang tidak kami kenal, mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia ada yanjg dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi, Jateng dan Jatim.

Sebenarnya pengetahuan saya tentang makhluk yang namanya lesson study sangatlah minim, karena terus terang saja pelatihan atau apapun namanya mengenai hal itu belum saya dapatkan. Tapi terus terang saja ada perasaan senang dalam hati ini begitu selesai menyelesaikan tugas sebagai guru model, banyak ilmu yang saya dapatkan dari para observer terlebih saat refleksi banyak sekali masukan-masukan yang diberikan untuk kesuksesan kegiatan pembelajaran di masa yang akan datang. Dan terus terang hal ini membuat saya tertarik untuk berselancar di dunia maya mencari-cari segala sesuatu terkait lesson study. Berikut ini saya akan mencoba berbagi dengan sahabat maya tentang makhluk yang bernama lesson study.

Pengertian

Lesson study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan saling membantu untuk membangun masyarakat belajar.[1]

Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran.[2]

Tahapan-tahapan dalam Lesson Study

Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam Lesson Study ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study, yaitu : (1) Perencanaan (Plan); (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (See). Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:

  1. Form a Team: membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study.
  2. Develop Student Learning Goals: anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari Lesson Study.
  3. Plan the Research Lesson: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons.
  4. Gather Evidence of Student Learning: salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa.
  5. Analyze Evidence of Learning: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa
  6. Repeat the Process: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada.

Untuk lebih jelasnya, dengan merujuk pada pemikiran Slamet Mulyana (2007) dan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam penyelengggaraan Lesson Study

1. Tahapan Perencanaan (Plan)

Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.

2. Tahapan Pelaksanaan (Do)

Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas Lesson Study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer)

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:

  1. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.
  2. Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study.
  3. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.
  4. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.
  5. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru.
  6. Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.
  7. Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP.

3. Tahapan Refleksi (Check)

Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.

Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.

4. Tahapan Tindak Lanjut (Act)

Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial.

Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik.

Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta Lesson Study, tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam Lesson Study, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.

KESALAHAN YANG SERING DITEMUI

  • Dianggap sebagai metoda pembelajaran.
  • Lebih berfokus pada rencana (model pembelajaran, media/alat)
  • Observer memposisikan diri sebagai kritikus dan refleksi menjadi ajang mengkritik guru.
  • Dosen sebagai pihak/sumber yang yang paling tahu, pembuat RPP.
  • Kurang cermat dalam mengobservasi.
  • Skenario tidak dikembangkan berdasar hasil identifikasi masalah sebelumnya.
  • Fasilitator membuat kesimpulan hasil diskusi.
  • Rekaman vidio kurang fokus pada aktivitas siswa. [3]

Demikian tulisan tentang lesson study ini semoga bermanfaat.

Sumber Bacaan :

Iklan

21 Tanggapan to “Makhluk Itu Bernama “Lesson Study””

  1. satriakirana bostom said

    selamat kang telah menjadi guiru model, smoga bisa meningktakan poembelajaran

    Suka

  2. armyn said

    di mgmp saya pernah jadi guru model, soal ngadeg-deg mah sama aja kang …heheheh

    Suka

  3. kiguru said

    Betul kang, sering kali terjadi saat LS dijadikan ajang untuk menghakimi gudel alias guru model, selamat ya .. telah jadi GUDEL 😆 🙂 🙂 :mrgreen:

    Suka

  4. rendi said

    Terimkasih share nya … bermanfaat banget buat melengkapi tugas saya.

    Suka

  5. di dunia guru banyak yang ya bi …, saat sy sekolah dulu kayanya belum ada yg kaya gituan …. heheheh

    Suka

  6. Kontraktor said

    Selamat yah…dan sukses selalu…

    salam kenal..

    Suka

  7. LuAR BIASA …. , selamat telah jadi guru model, tulisan nya sangat membantu buat sy kang kebtulan sy lagi cari tahu ttg LS.

    Suka

  8. Guru-guru ku di SMPN 5 😀

    Suka

  9. tirta said

    makasih tulisannya sangat bermanfaat
    tapi aku juga mengunjungi sumber aslinya >>>>
    kalau ga baca yg ini tentu aku ga akan mebndapatkan sumber nya
    skali lagi
    makasih >>>> makasih >>>> makasih

    Suka

  10. kontraktor said

    haiii…salam kenal ya…:)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: