Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Kesederhanaan Yang Mengharumkan

Posted by abifasya pada 16 Desember 2010


Oleh: Asep M Tamam*

KH. ILYAS (Allahu Yarham)

Langit Tasik, 18 Desember 2007  tiga tahun yang lalu bergelayut kabung. Rupanya, putra terbaiknya, KH. Ilyas Ruhiyat dipanggil Sang Pemilik. Keharuman namanya tergambar dari tangisan cinta umat yang hari itu tumpah dan meruahi pesantren Cipasung, Singaparna Tasikmalaya. Begitulah bila ulama ‘besar’ wafat, kerugian spiritual yang dialami umat adalah kerugian yang sesungguhnya. Allah swt. secara gradual akan ‘menghabisi’ ilmu dari kehidupan umat, tak lain dengan mewafatkan para ulama.

Dari berbagai referensi tentang tokoh harismatik yang pantas menjadi ‘referensi’ ini, penulis menangkap kata “kesan” paling mendominasi pewacanaan tentang dirinya. Ketika penulis pertanyakan ke kang Iip (Iip D. Yahya, penulis biografi Ajengan Cipasung, 2006), kenapa tokoh Cipasung ini yang diangkat untuk dibiografikan? Singkat ia menjawab, “Karena pa Ilyas adalah yang paling saya kagumi”. Kang Iip —tentunya setelah membaca sepak terjang pak Kyai— mendapatkan ‘sesuatu’ yang terus menggoda daya imajinasinya untuk segera menulis biografi kyai santun ini. Dan, sesuatu itu tak lain adalah kesan demi kesan.

Tasik yang beruntung

Beruntunglah warga Tasik karena dalam sejarahnya, tokoh-tokoh ulama besar lahir dari ‘rahim’nya. Sebut saja Syeh Abdul Muhyi, KH. Zainal Mustafa, KH. Khaer Afandi, Mama Kudang, KH. Ruhiat Cipasung, KH. Wahab dan KH. Syihab Muhsin dari Sukahideng, KH. Siddiq Amin dan tentunya berpuluh ratus ulama lain yang ilmunya nyata-nyata telah mengawal Tasik menjadi ‘gudang’ santri dan ‘pabrik’ ulama. Keharuman nama dan kecintaan umat pada mereka pasti karena kepribadian mereka yang walaupun berbeda dan berwarna, tapi positif dan menggambarkan Islam lewat persepsi masing-masing.

KH. Ilyas Ruhiat, adalah salah satu ‘aset’ termahal Tasik yang bila kita mengaji ilmu keteladanan darinya, kita akan menemukan keteladanannya muncul dari aspek multi dimensional. Berbagai kesan pastinya didapatkan siapapun yang sering atau jarang, sebentar atau lama, dekat atau jauh, bergaul dengannya dan mencicipi pesona pribadinya yang apa adanya itu. Penulis sendiri, walaupun hanya sebentar menjadi muridnya, berobsesi untuk menuliskan kesan pribadi terhadap beliau walaupun itu tertuang dalam satu paragfaph saja. Dan, satu saja yang ingin penulis angkat adalah nilai kesederhanaan yang lekat dengan dirinya.

KEHARUMAN DI BALIK KESEDERHANAAN

Al- Bushairy, penulis qasidah burdah itu, pernah mengungkap kesannya terhadap Nabi Muhammad saw. “Gunung-gunung merayunya agar dapat berubah emas, sayang… ia menolaknya”. KH. Ilyas Ruhiat, adalah satu dari sekian sosok yang hanya mengambil seperlunya saja dari kelebihan yang sebetulnya bisa ia raih dengan haq. Tokoh yang menasional (mantan anggota MPR RI, DPA, MUI pusat, Rais ‘Aam PBNU) ini, bila dilihat posisi tawarnya sebagai orang ‘besar’, sebetulnya bisa saja meraup apapun sekehendak hatinya, namun ia tak mau dan ia tak seperti itu. Kesan yang terekam dari pengalaman para tetamu yang datang siang malam dan nyaris tanpa kesulitan dan hambatan (baca ajengan Cipasung, Iip D. Yahya hal. 126-131) menggamblangkan bahwa sosok, pribadi, gaya bicara, penampilan, suasana dalam rumah, kendaraan, makanan dan lain-lainnya betul-betul sederhana, tak memaksakan diri dan tak dibuat-buat.

Penulis sendiri, walaupun terhitung jari, alhamdu Lillah berkesempatan langsung mempelajari keteladanan dari nilai kesederhanaan beliau di rumahnya. Kesenangan bathin yang terhidang dalam beberapa puluh menit pertemuan itu betul-betul menggambarkan pemahaman beliau tentang Islam yang dipraktekkannya langsung di depan tetamu. Bagi beliau, semua orang sama saja, siapapun yang datang dan butuh sesuatu (ilmu, informasi dan lainnya) harus dipuaskan dan jangan diputus harapan, kecuali bila kondisi fisiknya tak memungkinkan menerima tamu. Dan pada saat itu, tamulah yang harus mengerti.

INSPIRASI BAGI CALON ULAMA

Kekuatan pribadi KH. Ilyas Ruhiat adalah buah dari bakat intrinsik dirinya, di samping dari pelatihan dan pembiasaan yang lama, dan inilah yang harus diteladani oleh siapapun yang bercita-cita agung jadi ulama. Santun, sederhana, ramah, menyejukkan, memuaskan, memecah berbagai masalah, adalah sifat Nabi Muhammad saw yang ditiru pak Kyai. Tentunya, giliran kita yang harus meneladaninya, meneladani semua sisi-sisi positifnya di sela-sela cuaca zaman yang selalu merayu kita untuk menjauhi dan melawan arus dari akhlak dan karakter mulya yang telah dipraktekkan pak Kyai.

Semoga, KH. Ilyas Ruhiat-KH. Ilyas Ruhiat lain muncul dan dalam jumlah yang lebih banyak lagi, di Tasik khususnya tempat Pak Kyai tinggal, juga di negeri ini tempat pak Kyai berkhidmat.

Wallaahu min waraa al- qashd

*Pecinta Ulama

Iklan

2 Tanggapan to “Kesederhanaan Yang Mengharumkan”

  1. nurhayadi said

    semoga generasi pewarisnya sanggup meneruskan perjuangannya

    Suka

  2. fawzi said

    Subhanallah …, Allahujmghfirlahu ….
    Jadi emut kang ka bapak kiyai, kapangkur abdi mondok mung 3 tahun di CIPSI teh salami SMA we, leres pisan anjeun na mah sederhana.
    mugia urang sadaya tiasa nuurt buat talajak anjeunna

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: