Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Fatimah Az Zahra & Ali Bin Abi Thalib, The Greatest Love Story Ever

Posted by abifasya pada 6 Desember 2010


Ikhwan Langka Bernama Ali …

Dia bernama Ali.Ikhwan itu sama dengan laki-laki lainnya. Rutin berinteraksi dengan akhwat ayu, daiyah populer dari keluarga terpandang, dan sekalipun tarbiyah bukan hanya sepekan sekali menerpa, namun dia masih manusia … Perasaan itupun muncul tanpa diminta.
Namun ia tahu posisi dirinya. Ia tahu mana batasnya. Cinta platonisnya disimpan rapat-rapat. Jangankan untuk ‘nembak si akhwat, apalagi mengetikkan status di wall FB, untuk mengekspresikanpun ia bertahan. Bertahan. Tak sesiapapun tahu gelisah hatinya.
Menjaga kemuliaan diri … dan juga kemuliaan si akhwat.
Apalagi, mimpi memperistri sang akhwat kian memudar ketika tiba seseorang dengan segalanya: kesolihan, kekayaan, kemasyhuran dengan tujuan yang juga lama diidamkannya: mengkhitbah akhwat pujaan.
Seseorang itu punya begitu banyak keutamaan. Tak mungkin sang akhwat menolaknya. Gundahnya kian membulat.
Namun tak diduga, langit hatinya kembali cerah. Lamaran pria masyhur itu ditolak.
Waktu merambat dengan keteguhan menjaga kemuliaan diri. Namun seseorang kembali datang, justru ketika ia tengah mengumpulkan segenap alasan dan keberanian untuk hadir menjumpai orangtua si akhwat.
Pengkhitbah kali kedua ini pria gagah. Maisyah juga tak masalah. Disegani kawan maupun lawan atas kiprahnya di medan dakwah.
Ali, ikhwan yang teguh menggenggam marwah, kembali menunduk. Tak mungkin sang akhwat pujaan kali ini menolak pengkhitbah nan gagah. Cinta tak terucap itu lagi-lagi harus dikubur dalam-dalam. Namun berita yang sama kembali bagai petir di siang bolong. Pria kedua pun ditolak.
Skenario Allah, SWT berlaku. Ya, Allah takdirkan Ali berjodoh dengan akhwat pujaan hatinya. Mereka menikah.

***
Happy ending? Pemuda bersahaja itu menemukan jawaban doanya. Tapi cerita belum selesai sampai di sini. Suatu malam, istri cantik menyampaikan sebuah rahasia yang mengejutkannya. “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda.”
Ali terkejut dan berkata, “Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? Dan siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum istrinya berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu.”
Maha Suci Allah. Cinta platonis seorang ikhwan dan seorang akhwat. Kedua cinta tak terekspresikan. Tak terkatakan. Padahal situasi dan tuntutan dakwah membuat aktivitas mereka sering bertumbukan. Peluang untuk memberi sinyal ketertarikan atau sekedar perhatian nan ‘wajar’ tumbuh di sini dan di sana, bila mereka mau.
Namun pilihan menabrak mainstream-lah yang mereka ambil.
Dan keduanya menyimpan perasaan itu rapat-rapat hingga ijab qabul-lah yang menjadi pembuka hijab.

***
Cinta platonis berakhir romantis antara ikhwan aktivis bernama Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah dan akhwat daiyah bernama Fatimah Az-Zahra binti Muhammad SAW ini bisa dibaca lengkapnya di bawah ini

Pria pengkhitbah pertama dalam true story itu adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Sedangkan yang kedua – yang juga ditolak – adalah Umar bin Khattab. Fathimah menolak Abu Bakr dan Umar, demi menanti pinangan Ali yang miskin.

Ini bukan dongeng. Bukan kisah Peter Pan atau Cinderella yang too good to be true. Mereka semua sungguh wujud. Dan romantisme itu sungguh terjadi. Yang paling penting, kisah mereka Allah hadirkan tentu bukan tanpa alasan.

Fatimah Az Zahra & Ali Bin Abi Thalib, The Greatest Love Story Ever

Siapa yang tidak kenal dengan Fatimah,sang Putri Rasul? Walaupun gak pernah dijabarkan seperti apa rupanya,tapi jaminan mutu pasti cantik banget. Fatimah itu Puteri Rasululullh SAW yang notabene masih keturunan bangsawan. Yah kita lihatlah ya keturunan bangsawan keraton aja bening-bening.. Gimana keturunan bangsawan Arab? Untuk selingan aja dulu ya. Rasulullah itu tampan banget.

Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fatimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Ternyata memang dari dulu Fatimah sudah mempunyai perasaan dengan Ali dan menunggu Ali untuk melamarnya. Begitu juga dengan Ali, dari dulu dia juga sudah mempunyai perasaan dengan Fatimah. Tapi mereka berdua sabar menyembunyikan perasaan itu sampai saat nya tiba, sampai saatnya ijab Kabul disahkan. Walaupun Ali sudah merasakan kekecewaan 3 kali keduluan orang lain, akhirnya kekecewaan itu terbayar juga.

Yup, sekali lagi, kata-kata ini pasti akan muncul dalam benak anda >>> “Jodoh memang tidak kemana”
Naah, dari cerita itu, lebih memperjelas lagi kan bahwa “Cinta itu, mengambil kesempatan, atau mempersilakan yang lain”

Sumber : jamaludinsoleh.multiply.com

Iklan

23 Tanggapan to “Fatimah Az Zahra & Ali Bin Abi Thalib, The Greatest Love Story Ever”

  1. Nurtien said

    Baru tau kisahnya spt itu, sungguh romantis yah walau tanpa bumbu rayuan gombal apalagi saling bersentuhan.

    Suka

  2. putratunggara said

    kisah yang luarr biasa kang, masih adakah stok pemuda masa kini yang seperti Ali, menyatakan cinta tanpa rayuan gombal apalagi disertai dengan pendekatan perzinahan

    Suka

  3. Ali bin Abi Thalib berpasangan dengan Fatimah az-Zahra
    ini jelas sebuah kisah nyata yang mempesona
    cerita cinta ikhwan dan akwat yang berahlak mulia

    Ali berada pada betrahan karena belum cukup pantas
    Padahal cintanya bergelayut di dada
    Mereka tak memposisikan diri pada pacaran
    Membiarkan cinta membara tanpa ikatan pernikahan
    Ah, bagaimana kita tidak belajar dari mereka

    Sanes kitu 🙂

    Suka

  4. Selamat Tahun Baru 1432 H

    Suka

  5. Assalaamu’alaikum kang guru….

    Hadir untuk mengucapkan Selamat menyambut Maal Hijrah 1432.
    Semoga kehadiran tahun baru Islam akan mengorak langkah penghijrahan yang lebih bermanfaat untuk kejayaan hidup di masa depan.

    Salam keindahan Awal Muharram.
    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.

    **********

    Percintaan yang menjadi contoh kepada muda mudi agar selalu menjaga tatasusila dalam pergaulan. Mas, mohon untuk dicopas agar saya punya ilmu untuk disebarkan kepada pelajar saya nanti. Mohon izin dulu mas, nanti kalau sudah dapat izin nya, saya copas kemudian.

    terima kasih. salam ukhuwwah berpanjangan.

    Suka

  6. menarik
    salam hangat dari blue

    Suka

  7. komuter said

    cerita sesungguhnyakah……..

    Suka

  8. irmawaty said

    kisah cinta yang layak dijadikan panutan. salam dari blogger baru. See you in my blog

    Suka

  9. Sugeng said

    Hm…. kisah cinta yang sejati meskipun tidak di bukukan seperti romeo – juliet. Seharusnya seperti inilah generasi muda Islam yang selalu mengedepankan akhlaqkul karimah dari pada nafsu dunia saja 😆
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Suka

  10. Etik Umayah said

    subhanallah,,,,,,jalan cinta para pejuang panji islam yang layak untuk diteladani

    Suka

  11. Herwan said

    subhahanallah,, sungguh mempesona skali kisah keduanya,,
    seharusna generasi muda harus mencontoh Ali n Fathimah….

    Suka

  12. subhanallah………….,seak kecil saya mengagumi sosok fatimah azzahra putri Rosululloh,jika boleh dan jika ALLOH mengizinan saya ingin sekali mengikuti jejak Fatimah Azzahra yang terhindar dari fitnah dunia,yang menerima jodoh dari ayahandanya dengan ikhlas dan yakin bahwa pilihan ayahandanya adalah yang terbaik dirinta dan agamanya.Amien………….

    Suka

  13. subhanallah………….,sejak kecil saya mengagumi sosok fatimah azzahra putri Rosululloh,jika boleh dan jika ALLOH mengizinan saya ingin sekali mengikuti jejak Fatimah Azzahra yang terhindar dari fitnah dunia,yang menerima jodoh dari ayahandanya dengan ikhlas dan yakin bahwa pilihan ayahandanya adalah yang terbaik untukdirinya dan agamanya.Amien………….

    Suka

  14. ujie said

    izin share ya

    Suka

  15. Aisyah said

    Subhanallah……………sosok yang patut dicontoh dan diteladani

    Suka

  16. Bulan Wrdh said

    izin share…

    Suka

  17. ryna said

    izin share tulisan ini ya. . ^^

    Suka

  18. ryna said

    ijin buat share tulisan ini ya. . ^^

    Suka

  19. ellllssaa said

    subhanallah subhanallah
    nice share 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: