Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Kalau Hidup Untuk Akhirat …. , Buat Apa Maksiat ?

Posted by abifasya pada 14 April 2010


debus

Judul ini saya sengaja buat untuk postingan sebuah kisah yang sangat menyentuh hati saya, akan keteguhan seorang wanita mempertahankan harga dirinya, mempewrtahankan kehormatannya demi mendapatkan ridla Allah, Kisah ini saya ambil dari sebuah kitab kecil penuh petuah yang bernama kitab UQULUZZAIN sebuah karya dari Syaikh Nawawi Banten, Beginilah kisahnya :

Dikisahkan ada seorang pandai besi yang mempunyai keajaiban luar biasa. Kalau dia memanggang besi di dalam bara api, tangannya tidak kepanasan sekalipun saat mengambilnya menggunakan tangannya secara telanjang. Ketika itu ada seseorang yang tergerak hatinya berminat menyaksikan keajaiban itu. Hingga suatu hari orang tersebut datang ke rumah si pandai besi. Ia bertanya tentang keajaiban yang terjadi pada dirinya. Setelah menyaksikan sendiri, ia memandangi penuh kekaguman. Lalu laki-laki itu berkata kepada si pandai besi : “Malam ini aku menjadi tamumu, kamu tidak keberatan bukan ?”, si pandai besi menjawab : “ dengan suka hati aku menerima kehadiranmu”. Lelaki tadi diajak masuk ke rumah. Hingga setelah malam tiba ia disuguhi makan malam. Selesai makan hingga menjelang tidur, lelaki tadi tidak menjumpai suatu kelebihan dilakukan si pandai besi. Ibadah fardunya hanya seperti itu. Ia tidur malah hingga subuh. Dalam hati lelaki itu berkata : “ barang kali malam ini dia sengaja merahasiakan ibadahnya”.

Lelaki tadi meminta izin lagi untuk bermalam kedua kalinya. Ia mencoba memperhatikan amaliahnya si pandai besi, ternyata tetap tidak ada kelebihan dalam menjalankan ibadahnya. Ahirnya lelaki tadi berkata : “sudah seringkali aku mendengar betapa besarnya Allah memuliakan dirimu. Kebetulan aku sendiri juga menyaksikan kekeramatanmu itu. Tetapi setelah aku perhatikan ternyata tidak ada kelebihan yang aku jumpai dalam ibadah fardu atau sunahmu. Kalau begitu darimanakah tingkatan itu kau peroleh ?.  Si pandai besi menjawab : “ saudara, sesungguhnya aku mempunyai kisah yang sangat menarik. Ceritanya begini ; aku bertetangga dengan seorang perempuan yang sangat cantik aku cinta sekali padanya. Setiap saat aku menggoda dan merayunya supaya mau memenuhi keinginanku. Namun sampai sejauh itu aku tidak dapat menundukan dirinya. Rupanya ia perempuan ahli waro’ yang sangat bagus segalanya.

Bulan demi bulan terus bergulir, hingga tibalah masa paceklik, makanan susah diperoleh. Kelaparan melanda dimana-mana. Suatu hari ketika aku sedang duduk tiba-tiba pintu rumahku diketuk seseorang. Ternyata perempuan yang cantik itu yang datang. Ia berdiri di depan pintu, katanya : “tuan, aku ini sedang kelaparan, apakah ada makanan yang bisa tuan berikan kepadaku ?. Jawabku : “ apa kau tidak merasa bahwa aku sangat mencintaimu ?, aku tidak akan memberimu makanan kecuali kau bersedia menyerahkan dirimu padaku “. Perempuan itu berkata : “ sesungguhnya aku sangat takut menghadapi bahaya dalam kematian, aku telah berjanji tidak akan berbuat maksiat kepada Allah. Lalu perempuan itu pulang.

Dua hari kemudian dia datang lagi. Ia meminta makanan seperti yang dikatakn tempo hari. Aku juga memberi jawaban seperti jawabanku kemarin. Tubuh wanita itu kelihatan begitu kurus kering. Ia masuk dan duduk di dalam rumah. Lalu aku menyodorkan makanan di depannya. Tiba-tiba air mata perempuan itu menetes, seraya berkata : “apakah makanan ini kau berikan semata karena Allah ?.

Aku menjawab : “aku berikan makan itu agar kau bersedia menyerahkan dirimu kepadaku”. Ia bangkit,  meninggalkan makanan itu tanpa menjamahnya sedikitpun.

Dua hari kemudian dia datang lagi, kulihat tubuhnya kian kurus kering dan suaranya terbata-bata. Punggungnya kelihatan membungkuk karena menahan lapar. Ia berkata : “Tuan aku telah merasa kesulitan untuk mencari makanan dan aku tak sanggup lagi berjalan jauh mencari makanan kecuali kepada tuan. Apakah tuan punya makanan yang bisa diberikan kepadaku ikhlas karena Allah ?. Aku menjawab : “Ya tentu ada kalau kamu bersedia menyerahkan dirimu kepadaku”.

Perempuan itu menundukan wajah beberapa saat. Ia masuk dan duduk di dalam. Aku segera menghidupkan api untuk memasak makanan baginya.

Setelah masak dan makanan ku letakan di depannya tiba-tiba aku tersadar dan memperoleh petunjuk dari Allah. Aku sadar betapa jahatnya diriku. Perempuan ini adalah perempuan yang snagat taat pada agamanya. Walaupun ia tidak mampu mencari makanan dan sudah berulangkali merasakan betapa pedihnya kelaparan, tetapi ia tidak mau berbuat maksiat. Sedangkan aku tidak dapat menahan untuk tidak berbuat maksiat. Kemudian aku berdoa kepada Allah : “ Ya Allah, sesungguhnya sekarang aku bertaubat kepadamu atas segala perbuatanku. Aku berjanji tidak akan mendekat-dekat lagi kepada perempuan itu untuk bermaksiat”.

Aku dekati dia yang masih terpaku di depan makanan. Aku berkata : “ sekarang makanlah. Kamu tidak perlu khawatir bahwa aku akan meminta persyaratan itu. Kuberikan makanan itu karena Allah”.

Begitu mendengar ucapanku, ia mengangkat wajahnya ke langit seraya berkata : “Ya Allah, jika ucapannya itu benar, hindarkanlah dirinya dari api di dunia atau di akhirat”.

Lalu perempuan cantik itu kubiarkan menyantap makanan. Aku sendiri berkemas dari hadapannya untuk memadamkan api. Tanpa sengaja, sebuah bara api jatuh mengenai kakiku. Ternyata tidak melepuh. Aku kembali lagi menjumpainya dengan penuh kegembiraan dan berkata : “bergembiralah kamu, sesungguhnya Allah telah mengabulkan doamu”.

Lalu, ia buang sesuap makanan yang masih ada ditangannya. Ia bersujud syukur seraya berucap : “Ya Allah sesungguhnya Engkau telah memperlihatkan kepadaku apa yang kukehendaki terhadap lelaki ini. Maka cabutlah ruhku sekarang juga.

Selesai berucap begitu, perempuan itu meninggal dalam keadaan masih bersujud.

Demikianlah ceritaku saudara.

sumber gambar : duniadalamartis

Iklan

21 Tanggapan to “Kalau Hidup Untuk Akhirat …. , Buat Apa Maksiat ?”

  1. Selamat pagi, salut untuk posting anda yang menarik.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru berjudul : “Proses kerja usaha cuci sepeda motor?”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan kalau berkenan tolong dikasi komentar.
    Terima kasih.

    Suka

  2. tukangpoto said

    Postingnya mencerahkan mas..terima kasih.

    Suka

  3. sugeng said

    …… hmmmmm ….. panas…

    Suka

  4. Assalamu’alikum,
    Subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illallah wallahu akbar… semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari cerita ini. (Dewi Yana)

    Suka

  5. nopi said

    subhanallah.. merinding..
    mo nangis bacanya
    trima kasih udah sharing, kang Abi

    Suka

  6. luar biasa, cerita yg menggugah jiwa.. 🙂
    salam kenal pak, baru mampir

    Suka

  7. ekopras said

    betul mas..sebaiknya kita bertumpu pada tjuan akhir kita…yaitu akhirat

    Suka

  8. Bang Dje said

    Ternyata banyak cerita semacam ini. Intinya adalah menjauhi maksiat. Lalu melaksanakan ibadah sesuai yang diajarkan dan tidak berlebihan. Karena kita tidak boleh melupakan kebutuhan kita di dunia.
    Wah banyak yang bisa diunduh, tapi lagi ga sempat. Mungkin nanti kalau mampir lagi.
    Salam kenal

    Suka

  9. BlogCamp said

    Sebuah kisah yang patut dijadikan suri tauladan. Wanita yang sempurna menjaga akhlaknya dan laki-laki yang segera menyadari kekhilafannya dan bertaubat.
    Terima kasih atas kisah yang menggugah kesadaran. Jika ada pelacur yang punya blog dan membaca kisah ini mudah2an mereka segera bertaubat. Amin
    Salam hangat dari BlogCamp.

    Suka

  10. jumialely said

    postingan yang sangat bagus untuk bahan perenungan para wanita

    salam mas

    Suka

  11. anjar said

    subhanalloh……. saya juga pernah membaca cerita ini,…. sungguh membuat kita sadar bahwa kita hidup di dunia itu cuma sementara……ada kematian yang slalu bersiap merenggut kita… astaghfirulloh… trimakasih mas,atas artikelnyya… 😀

    Suka

  12. nurhayadi said

    Perlu waktu dan pembelajaran untuk beramal ikhlas karena Allah.

    Suka

  13. batavusqu said

    Salam Takzim
    Abi ada undangan dilihat ya
    Salam Takzim Batavusqu

    Suka

  14. batavusqu said

    Salam Takzim
    Usahakan ya Bi
    Salam takzim batavusqu

    Suka

  15. dafiDRiau said

    Semoga Allah melembutkan dan menguatkan hati kita

    Suka

  16. Hidup bagai numpang berteduh, bila hujan usai maka kita akan pulang ke rumah sesungguhnya

    Suka

  17. arkasala said

    Cerita yang sarat makna. Semoga menjadi pembelajaran kang bagi saya.
    Terima kasih sekali pencerahannya.
    Maaf baru mampir.
    Salam hangat selalu untuk kang Abi sekeluarga 🙂

    Suka

  18. dedekusn said

    Kisah yang menarik kang, semoga kita bisa mengambil hikmah dibalik kisan ini.

    Suka

  19. Buat penyadaran bagi kita semua, buat instrospeksi apa saja yang telah kita berbuat selama ini, buat bertaubat juga..
    Salam Hangat, setelah lama hilang dari peredaran.

    Suka

  20. Rani said

    subhanallah…ceritanya membuat saya terketuk.. 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: