Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Hikmah di balik terbitnya Surat Menteri Keuangan Nomor S-145/MK05/ 2009

Posted by abifasya pada 2 April 2009


Ketika Koran Kompas menurunkan sebuah tulisan yang berjudul  “TUNJANGAN PROFESI GURU TERANCAM DIHENTIKAN” pada hari Sabtu, 28 Maret 2009. Hal itu membuat resah para guru terlebih dalam tulisan tersebut dikemukakan pernyataan Bapak Sulistiyo  Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia yang  menyesalkan adanya surat menteri keuangan Nomor S-145/MK 05/2009 tanggal 12 Maret 2009 yang akan menghentikan pembayaran tunjangan profesi guru dan dosen. “Surat itu membuat resah para guru. Persoalan administratif seharusnya sudah diselesaikan pemerintah jauh-jauh hari sebelumnya. Kami meminta supaya hak guru dan dosen tetap dibayarkan karena itu amanat UU guru dan dosen,” katanya.
Menurut Sulistiyo, PGRI sudah mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta Presiden segera menerbitkan perpres tunjangan guru dan dosen sebelum Juni ini. “Saya juga sudah berkoordinasi dengan Menteri Sekretaris Negara. Mensesneg berjanji untuk melakukan upaya dan berkoordinasi dengan berbagai pihak supaya perpres yang mengatur tunjangan profesi guru selesai sebelum juni, ” katanya.

Jika kita menghadapi semuanya dengan senyuman ternyata surat menteri keuangan Nomor S-145/MK 05/2009 tanggal 12 Maret 2009 pada hakikatnya menyemangati  untuk mempercepat proses penyelesaian PP tentang dosen dan perpres tentang tunjangan profesi. Hal ini seperti dikemukakan mendiknas Bambang sudibyo dalam situs resmi depdiknas yang berjudul “Penerbitan PP dosen dan Perpres Tunjangan Profesi dipercepat”. Informasi selengkapnya kami sajikan berikut ini :

Jakarta, Senin (30 Maret 2009) — Penerbitan peraturan pemerintah (PP) tentang dosen dan peraturan presiden tentang tunjangan profesi dipercepat. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo mengatakan, secara teknis kedua instrumen hukum itu terus digarap bahkan dipercepat. Sementara, kata Mendiknas, terkait tunjangan profesi guru maupun dosen di Depdiknas selama ini sudah dibayarkan.

“Jadi sebetulnya tidak ada masalah meskipun perpresnya belum diselesaikan karena Menteri Keuangan mengizinkan sebelum perpresnya terbit untuk membayarnya atas dasar permendiknas. Permendiknas ini sudah ada dan sekarang ini sudah dibayarkan dan mengucur, yang belum mengucur adalah tunjangan profesi di Departemen Agama,” kata Mendiknas saat memberikan keterangan pers di Plaza Depdiknas, Jakarta, Senin (30/03/2009) .

Adapun terkait surat Menteri Keuangan Nomor S-145/MK 05/2009 tanggal 12 Maret 2009, Mendiknas mengatakan, semangat surat Menteri Keuangan kepada Mendiknas dan Menteri Agama adalah untuk mempercepat proses penyelesaian PP tentang dosen dan perpres tentang tunjangan profesi. “Jadi tidak ada sama sekali maksud untuk membatalkannya. Tujuan menteri keuangan adalah agar itu segera selesai sebelum bulan Juli,” katanya.

Mendiknas menyampaikan, terkait tunjangan profesi di Departemen Agama, Menteri Agama telah menulis surat edaran kepada semua kantor wilayah di Departemen Agama agar segera membayarkan tunjangan profesi guru dan dosen di lingkungan Departemen Agama karena sudah boleh dibayarkan. Mendiknas menambahkan, tunjangan profesi guru dan dosen diberikan kepada guru maupun dosen tetap PNS maupun non-PNS yang besarnya adalah 100 persen gaji pokok PNS. “Untuk guru atau dosen non-PNS besarnya adalah sebesar angka ekuivalensinya atau angka kesetaraannya sesuai dengan tingkat pendidikan dan masa kerja yang bersangkutan,” katanya.***

Jadi ketika ada suatu kabar yang tidak mengenakan sekalipun janganlah dihadapi dengan resah dan gelisah, karena dibalik semua itu tentu ada hikmahnya.

Ketika anda membaca berita di kompas tanggal 28 Maret 2009 itu, apakah anda termasuk orang yang resah atau termasuk orang yang menghadapai segala sesuatu dengan senyuman ?

Sumber : http://www.depdiknas.go.id/content.php?content=file_detailberita&KD=645

Iklan

4 Tanggapan to “Hikmah di balik terbitnya Surat Menteri Keuangan Nomor S-145/MK05/ 2009”

  1. jazim said

    Segala informasi di era keterbukaan ini seyogyanya dikoordinasikan. Jangan sepotong-sepotong. Semua dibicarakan dulu bsru diexpose. Jangan menjadikan resah, walaupun kalau ada yang resah dan gelisah serta bingung dapat dikatakan salah sendiri bingung. Yang penting sekarang tindakan nyata, karena sudah setahun guru menunggu. Coba hitung setahun guru sudah “dirugikan” berapa rupiah dan keresahan apa yang dirasakan guru. Juga para pejabat pemegang kas tentu tidak mau jika ada yang mengatakan uangnya kan di bank, berapa bunga yang didapatkan ??? Sekali lagi ujudkan tindakan jelas dan jangan MEMBINGUNGKAN, Jangan bikin guru stress !!! Terima kasih dan selamat bekerja semua !!!!

    Suka

  2. bapak farhan kapan pendaftaran bilingual smp 5 bogor

    Suka

  3. Dew@ said

    Tunjangan Profesi membuat para guru lebih Profesional dalam mengajar. Tetapi nyatanya tidak ada perubahan, malahan membuat guru itu menjadi malas karena sudah memikirkan “APA YANG BISA SAYA BELI UNTUK BULAN INI”. Apakah mungkin semua guru itu mengajar 24 Jam seluruh Indonesia, sedangkan sekolah tidak ada perubahan dan penambahan. Coba saudara pikirkan Guru yang mengajar di daerah pedalaman, mereka tidak pernah memikirkan untuk mendapat Tunjangan Profesi, yang pikirkan hanya bagaimana mereka bisa mendidik anak bangsa, serta masa depan mereka dan bisakah mereka nanti mencari makan untuk masa depan anak didiknya.
    Hidup Guru yang berjiwa besar, bukan memikirkan berapa yang didapatkan!!!

    Suka

  4. Fahmi said

    Terus bagaimana dengan nasib beberapa teman kita(puluhan mgkn ratusan)di Sul. Sel. mungkin juga di daerah yg lulus sertifikasi lewat depag krn sebelumnya mengajar di sekolah Depag kemudian terangkat di Diknas terancam sertifikasinya dibatalkan gara-gara sekarang mereka bertugas mengajar Agama di sekolah Diknas, padahal sertifikat sdh ada di tangan, sebagaimana pernyataan Mapenda setempat. Kenapa kok Depag begitu ya … kasihan dong mereka. Mungkin baiknya Depag tdk usah ngurusi Guru, Pendidikan atau haji, karena fakta membuktikan banyak sekolah & guru agama terlantar, byk permasalahan haji dsb. Bagus kalo Depag ngurusi kawin cerai saja … yg kurang dananya … Pak Menteri tolong dong dengar keluhan mereka …

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: