Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

STRATEGI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH UMUM

Posted by abifasya pada 6 Maret 2009


A.  Pendahuluan

Arus globalisasi dan kemajuan teknologi tidak selamanya berdampak positif, ternyata ada juga dampak negatifnya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di mancanegara sana, saat ini bisa kita saksikan di dalam rumah kita sendiri melalui layar televisi, internet dan fasilitas teknologi informasi lainnya yang secara langsung atau tidak dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak-anak  diusia remaja yang memiliki kecenderungan untuk mencoba-coba sesuatu, tidak sabar, mudah terbujuk dan selalu ingin menampakkan egonya.

Bila dasar-dasar agama yang dimiliki anak-anak kita sangat lemah, maka dikhawatirkan anak-anak kita itu meniru secara total segala perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang di manca negara sana tanpa memperhatikan baik buruknya serta manfaat dan madlaratnya. Bahkan pada sebagaian anak remaja/pelajar hal-hal yang menurut agama tidak boleh dilakukan (haram/berdosa) tetapi dikalangan anak-anak remaja/pelajar hal itu sudah dianggap lumrah, misalnya pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan, cara berpakaian yang mempertontonkan aurat, tawuran antar pelajar bahkan rasa hormat terhadap orang tua dan guru sudah hampir pudar. Mereka menganggap bukanlah cinta sejati yang penuh pengorbanan bila tidak mengumbar sex, tidaklah dikatakan moderen jika berpakaian harus menutup seluruh tubuh, tidaklah dikatakan setia kawan jika tidak ikut tawuran bahkan lebih parah lagi jika mereka beranggapan bahwa bila memperlakukan orang tua dan guru dengan penuh rasa hormat adalah perilaku ortodok dan ketinggalan zaman, na’udzu billahi min dzalik.

Jika semua itu telah dilakukan oleh para pelajar maka yang akan menjadi sasaran empuk untuk dijadikan kambing hitam adalah guru Agama. Kritik dari masyarakatpun ke luar dengan tajam : “Pendidikan Agama Islam  Gagal” atau “Pendidikan Agama Islam tidak berhasil”. Seiring dengan kritikan yang ke luar dari masyarkat para guru Pendidikan Agama Islam pun membela diri dengan alasan klise yang tidak menunjukan kreatifitasnya : “wajar kami gagal karena waktu yang tersedia hanya dua jam pelajaran saja setiap minggunya”. Sementara guru yang bukan guru Pendidikan Agama Islam terkadang mereka bersikap masa bodoh dan merasa bahwa masalah itu hanya menjadi tanggung jawab guru agama saja. Betulkah demikian ?.

Sebenarnya, sekarang sudah bukan saatnya lagi untuk saling menyalahkan dan membela diri atas ketidak tanggapan kita dalam menghadapi  permasalahan para pelajar, kini sudah saatnya kita semua menyadari bahwa tanggung jawab pendidikan Agama Islam di sekolah  bukan hanya berada pada pundak guru Pendidikan Agama Islam semata, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh aparat sekolah yang dikordinasikan oleh Kepala Sekolah sebagai pemegang dan pengambil keputusan.

Untuk itu agar tidak lagi terjadi saling menyalahkan antara aparat sekolah, perlu dirumuskan suatu strategi penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam di sekolah. Strategi yang dirumuskan diharapkan dapat mensiasati keterbatasan jam pelajaran yang hanya dua jam pelajaran saja sementara materi yang harus disampaikan begitu banyak dan harus menyentuh seluruh aspek, baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.

B. Upaya Mensiasati Keterbatasan Jam Pelajaran Sebagai Strategi Penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam di Sekolah.

Dua jam pelajaran di kelas memang tidaklah akan cukup untuk menyampaikan informasi keagamaan yang begitu komplek. Kalaulah kita tidak pandai mensiasatinya maka informasi yang diterima pelajar khawatir hanya akan menyentuh aspek kognitif saja sementara aspek afektif dan psikomotor tidak dapat tersentuh. Dalam masalah ahlaq mungkin saja ketika dilakukan evaluasi tertulis (ulangan)  para pelajar dapat menjawab dengan tepat bahkan bisa menyebutkan dalil naqlinya bahwa etika makan dan minum dalam Islam diantaranya tidak boleh sambil berdiri, tapi dalam kehidupan sehari-hari pelajar  tersebut masih saja makan dan minum sambil berdiri. Dalam masalah ibadah para pelajar mungkin saja ketika dilakukan evaluasi tertulis (ulangan) dapat menjawab dengan tepat bahwa salat lima waktu itu hukumnya wajib bila ditinggalkan berdosa dan bila dilaksanakan akan mendapat pahala, tapi dalam kehidupan sehari-hari pelajar tersebut masih enggan melakukan salat. Hal ini tentu tidak kita harapkan karena apa yang dilakukan para pelajar tidak sesuai dengan apa yang telah diketahuinya, diakui atau tidak kenyataan itu membuktikan bahwa pendidikan Agama Islam masih belum berhasil.

Upaya untuk mensiasati keterbatasan jam pelajaran dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, diantaranya adalah :

1) Menyeleggarakan Bina Rohani Islam (ROHIS)

Kegiatan Bina Rohani Islam (ROHIS), dapat dijadikan sebagai kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh pelajar yang beragama Islam. Untuk mewujudkan kegiatan ini perlu dibuat program kerja yang matang sehingga dalam pelaksanaannya tidak berbenturan dengan kegiatan ekstrakurikuler lainnya, didanai dengan dana yang cukup,  materi yang disampaikan dapat  menunjang materi intrakurikuler dengan menggunakan metode yang menyenangkan tapi tetap edukatif  serta memanfaatkan  tenaga pengajar yang ada di lingkungan sekolah yang memiliki komitmen  tinggi terhadap Islam.

a.        Waktu Penyelenggaraan Bina Rohani Islam (ROHIS)

Untuk sekolah yang menyelenggarakan Kegiatan Belajar Mengajar pada pagi hari saja maka waktu penyelenggaran kegiatan Bina Rohani Islam (Rohis) dapat dilakukan setiap hari setelah selesai Kegiatan Belajar Mengajar dengan lama pertemuan sekitar satu jam setengah (90 menit). Dua hari untuk kelas satu (hari Senin dan Selasa) dua hari untuk kelas dua (Rabu dan Kamis) dan satu hari untuk kelas tiga pada hari Jum’at (Untuk puteri dilakukan setelah Kegiatan Belajar Mengajar  pada saat pelajar putra Salat Jum’at, sedangkan untuk putera dilakukan setelah salat jum’at).

Sebagai contoh untuk memperjelas pendistribusian waktu penyelenggaraan Bina Rohani Islam bagi sekolah-sekolah yang menyelenggarakan KBM pada pagi hari saja dan selesai kegiatan belajar mengajar pada pukul 13.30 WIB, berikut ini akan penulis sajikan jadwal penyelenggaraan Bina Rohani Islam yang dilakukan di SLTPN 5 Kota  Bogor untuk kelas I sampai dengan kelas III yang masing-masing tingkat terdiri dari sembilan rombongan belajar dan masing-masing rombogan belajar mengikuti satu kali kegiatan Bina Rohani Islam dalam satu minggu.

Contoh Jadwal Penyelenggaraan Bina Rohani Islam

No

Hari

Kelas

Waktu

Keterangan

1

Senin

I (A,B,C,D)

14.00-15.30

2

Selasa

I (E,F,G,H,I)

14.00-15.30

3

Rabu

II (A,B,C,D,E)

14.00-15.30

4

Kamis

II (F,G,H,I)

14.00-15.30

5

Jum’at

III (A- I Putri)

III (A- I Putra)

11.30-13.00

13.00-14.30

Sementara untuk sekolah yang menyelenggarakan Kegiatan Belajar Mengajar pada pagi dan siang hari Bina Rohani Islam dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan hari-hari yang kegiatan belajar mengajarnya tidak penuh. Sebagai contoh untuk kelas siang para pelajar putrinya bisa memanfaatkan hari jum’at setelah selesai Kegiatan Belajar Mengajar  kelas pagi ketika para pelajar putra salat Jum’at. Sementara untuk para  pelajar putra bisa memanfaatkan hari Sabtu setalah selesai Kegiatan Belajar Mengajar  kelas pagi sebelum mereka melakukan kegiatan belajar mengajar pada siang harinya.

Kemudian untuk para pelajar kelas pagi bisa memanfaatkan waktu siang hari setelah selesai Kegiatan Belajar Mengajar dengan memanfaatkan kelas yang tersisa dan ruangan-ruangan lain yang bisa di pergunakan termasuk bisa menggunakan musola, aula dan lain-lain. Bahkan jika guru agama dan seluruh aparat sekolah mempunyai keinginan yang kuat untuk menyelenggarakan kegiatan Bina Rohani Islam, kegiatan tersebut dapat dilakukan tanpa memerlukan ruangan khusus, bisa saja kegiatan itu di lakukan di taman-taman sekolah, lapangan olah raga dan tempat-tempat lainnya.

b.        Sumber Dana Penyelenggaraan Bina Rohani Islam

Sumber dana bina Rohani Islam bisa disusun sejak awal tahun pelajran, dan dimasukan ke dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Dana tersebut dapat di distribusikan untuk seluruh kegaiatan yang ada kaitannya dengan Bina Rohani Islam termasuk didalamnya biaya pengganti transport para pembimbing bina rohani Islam.

c.        Materi yang disajikan

Materi yang disajikan dalam bina Rohani Islam hendaknya dapat menunjang materi intrakurikuler, dengan penekanan pada pendalaman pemahaman dan kemampuan membaca Al Qur’an tapi tidak melupakan materi-materi lain seperti Aqidah, Ahlak, Ibadah, Tarikh dan doa-doa pilihan. Mengapa harus demikian ?.   Karena tujuan semula penyelenggaraan Bina Rohani Islam adalah dalam rangka mensiasati keterbatasan jam mengajar di kelas.

d.        Tehnik dan metode penyampaian materi.

Pada pertemuan pertama para pembimbing Bina Rohani Islam mengelompokan dan menginventarisir pelajar yang sudah mampu membaca Al Quran dan yang belum. Pelajar yang telah dikelompokkan tersebut untuk pertemuan selanjutnya dianjurkan membawa Al Qur’an bagi yang sudah mampu membacanya dan membawa Buku Iqro bagi yang belum mampu membaca Al Qur’an.

Untuk pertemuan berikutnya, pada empat puluh menit pertama dipergunakan untuk pendalaman Baca Tulis Qur’an (BTQ). Bagi yang sudah mampu membaca Al Qur’an dianjurkan untuk membaca Al Qur’an sendiri, lebih  baik lagi bila melakukan hapalan dan bagi yang belum mampu membaca Al Qur’an dibimbing oleh pembimbing Bina Rohani Islam untuk mempelajari IQRO. Dan bila perlu pembimbing bisa meminta bantuan pelajar yang telah mampu membaca Al Qur’an untuk membimbing temannya mempelajari Iqro (TUTOR SEBAYA). Kemudian Tiga puluh menit berikutnya dipergunakan unruk penyampaian materi yang telah direncanakan dan tersusun dalam Gris-Garis Besar Pengajaran (GBPP – ROHIS). Selanjutnya  dua puluh menit terahir dipergunakan untuk hapalan Al Qur’an surat-surat pendek dan surat-surat pilihan yang telah direncanakan.

Metode penyampaian materi diusahakan menghindari metode satu arah (ceramah), tapi diharapkan para pembimbing rohani Islam mampu menggunakan berbagai macam metode kreatif dengan harapan metode tersebut bisa menumbuhkan semangat pelajar untuk belajar tanpa menimbulkan kejenuhan. Prinsip yang harus dipegang oleh para pembimbing rohani Islam metode tersebut dapat menyampaikan pesan ke Islaman sebanyak-banyaknya kepada para pelajar dan dapat menimbulkan gairah untuk mengamalkan inti ajaran Islam yang diperolehnya dengan penuh keikhlasan.

e.        Tenaga Pengajar (Pembimbing Bina Rohani Islam)

Yang menjadi tenaga pengajar atau pembimbing Bina Rohani Islam tidak hanya guru Pendidikan Agama Islam saja, jika kekurangan tenaga pengajar maka Kepala Sekolah bisa menunjuk guru mata pelajaran lain yang memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap ajaran Islam. Atau jika perlu bisa mengadakan kerja sama dengan para ustadz/ustadzah dan  lembaga-lembaga keagamaan lain  yang ada di sekitar sekolah.

2) Mengkondisikan Sekolah Dengan Kegiatan Keagamaan (Islamisasi Kampus).

Islamisasi kampus, memang terasa sangat ekstrim. Tetapi hal ini dimaksudkan agar seluruh warga sekolah terutama yang beragama Islam bisa menjalankan sebagain syariat Islam di lingkungan sekolah sehingga situasi kondusif bisa tercipta di lingkungan sekolah tersebut. Islamisasi kampus itu diantaranya bisa dilakukan melalui :

a.        Setiap hari sebelum belajar diusahakan setiap pelajar membaca Al Qur’an antara 5 s. d 10 ayat. Siswa yang telah bisa membaca Al Qur’an diharapkan dapat membantu temannya yang masih belum bisa membaca Al Qur’an. Sehingga saat menghadapi ujian praktek Pendidikan Agama Islam seluruh pelajar telah dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan  benar.

b.        Waktu Istirahat disesuaikan dengan waktu salat Dzuhur, sehingga seluruh aparat sekolah dan para pelajar bisa melakukan salat tepat waktu. Dalam hal ini perlu dibuat komitmen yang serius sehingga waktu istirahat benar-benar digunakan untuk salat.

c.        Setiap hari jum’at (bagi yang memiliki Mesjid) mengadakan salat Jum’at berjamaah di Mesjid (Musola) yang ada di lingkungan sekolah. Seluruh pelajar mewakili kelasnya bergiliran menjadi petugas salat Jum’at seperti muadzin dan bilal. Sedangkan guru-guru yang beragama Islam diharapkan bisa bergiliran menjadi Imam dan Khatib Jum’at.

d.        Setiap hari Jum’at seluruh pelajar yang beragama Islam, guru-guru dan seluruh aparat sekolah dianjurkan untuk memakai busana muslim baik laki-laki maupun perempuan (di tingkat SLTP anak laki-laki  memakai baju koko dan celana panjang sedangkan untuk anak perempuan memakai kerudung dan rok panjang)

e.        Setiap hari ada mata pelajaran Agama Islam seluruh pelajar yang beragama Islam diwajibkan memakai busana Muslim baik laki-laki maupun perempuan.

f.         Pihak sekolah baik pembina OSIS maupun BP/BK (di tingkat SLTP) tidak lagi memperamasalahkan jika ada para pelajar putra yang memakai celana panjang setiap hari dan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menutup auratnya, mengingat aturan yang ada baru memberikan kesempatan untuk menutup aurat bagi para pelajar putri.

g.        Setiap bulan Ramadlan dan libur smester diadakan kegiatan pesantren kilat.

h.        Setiap bulan Ramadlan melaksanakan kegiatan pengumpulan dan pembagian zakat fitrah dan zakat maal dengan melibatkan para pelajar sehingga mereka bisa mengetahui mekanisme pembagian zakat melalui praktek.

i.          Setiap bulan Dzulhijjah menyelenggarakan kegiatan qurban di sekolah denga melibatkan para pelajar sehingga mereka bisa mengetahui bagaimana mekanisme pelaksanaan ibadah qurban dan bagaiman mekanisme pembagaian hewan daging qurban.

j.          Ketika menyelenggarakan peringatan hari besar Islam (PHBI) tidak hanya diisi dengan kegiatan ceramah  tapi bisa melakukan kegiatan lain yang bisa lebih menyentuh hati dan ingatan anak seperti melakukan bakti sosial, pemutaran film-film Islam baik yang berupa film-film perjuangan maupun film-film dokumenter, cerdas-cermat Al Qur’an dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Semua hal tersebut di atas dapat terlaksana dengan baik bahkan bisa menciptakan suasana kondusif di lingkungan sekolah jika seluruh guru dan seluruh aparat sekolah mempunyai tanggung jawab dan keinginan yang sama dalam membentuk siswa yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

3) Menggunakan Metode Insersi (Sisipan) dalam KBM

Metode Insersi adalah cara menyajikan bahan pelajaran degan cara ; inti sari ajaran Islam atau jiwa agama/emosi religius diselipkan/disisipkan di dalam mata pelajaran umum (Tayar Yusuf,  1995 : 73).

Untuk menggunaka metode ini guru agama harus bekerja sama dengan guru mata pelajaran lain (mata pelajaran umum)  agar pesan-pesan keagaamaan bisa disampaikan melalui pelajaran umum dengan cara yang sangat halus, sehingga hampir tidak terasa bahwa sesungguhnya saat itu para pelajar sedang mendapatkan suntikan keagamaan oleh guru mata pelajaran yang bukan pelajaran agama.

Metode insersi ini bisa dilakukan melalui seluruh mata pelajaran, sebagai contoh ketika guru mata pelajaran ekonomi mengajarkan tentang barter dan jual beli maka bisa disisipkan jiwa agama berupa informasi tentang perlunya ijab kabul dan perlunya pencatatan transaksi jual beli yang tidak dengan cara tunai  sebagaimana termaktub dalam surat Al Baqarah ayat 282. Atau contoh lain ketika melakukan praktikum IPA, guru IPA bisa mneyampaikan perlunya kejujuran, ketelitian dan kesabaran dalam melakukan praktek, sebab tanpa semua itu hasil dari praktek tidak akan memuaskan bahkan mungkin gagal, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.

C. Penutup.

Selama ada keinginan yang kuat untuk selalu menghasilkan kualitas hasil pendidikan pada hari ini senantiasa lebih baik dari hari kemarin, maka tidak ada satupun strategi penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam yang dirasakan sulit untuk diwujudkan, yang terpenting adalah adanya usaha untuk mewujudkan strategi tersebut adapun mengenai hasil dari pelaksanaan strategi tersebut semuanya kita serahkan kepada Allah swt.

Wallahu ‘alam bishshawab.

Daftar Bacaan

  1. Abdul Rahman Saleh, Pendidikan Agama Dan Keagamaan Visi, Misi dan Aksi, PT Gema Windu Pancaperkasa, Jakarta, 2000
  2. Drs. H. Tayar Yusuf, dkk Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab,
  3. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995
  4. M. Athiyah Al Abrasyi Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1970
  5. Drs. H. Momon Herdiyanto, Mainstreaming Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Umum (artikel), Media Pembinaan No. 06/XXVIII Sepetember 2001.
Iklan

14 Tanggapan to “STRATEGI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH UMUM”

  1. Muhammad Rofik said

    trims ………

    Suka

  2. lukman said

    Makasih atas infonya,manfaatbanget.o..ya..ngomong-ngomong punya programkerja sanlat ga?

    Suka

  3. A.S. RAHMAT said

    Terimakasih atas dimuatnya tulisan di atas, mudah2han menjadi inspirasi bagi kami dan para pendidik khususnya, sungguh baik sekali tulisannya namun demikian akan lebih sempurna jika tulisan tersebut dilengkapi dengan daftar pustaka. mdh2han Alloh memberkati kita semua, Amien.

    Suka

  4. fauzan said

    assalamualaikum
    hebat lah… geus boga blog…
    sy izin download artikel2nya yah…
    demi mencerdaskan anak2 bangsa ini…
    sy tunggu di diklat berikutnya..
    wassalam

    Suka

  5. eli latifah said

    syukron infonya, bagus sekali, mdh2n bermanfaat. Tolong donk akhi minta dikirim program kerja ujian praktek pai smp!

    Suka

  6. Wati Rahmawati S.PdI said

    mohon izin bt download artikel2nya bt dilajutin ke mereka yg membutuhkan, moga brmanfaat amiiiin,
    thank’s ya ,,,,,,,,,,,,,

    Suka

  7. Tanti said

    Boleh kan bwt ngedownloadnya ?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: