Farhansyaddad weblog

Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik

Untukmu Ibu

Posted by abifasya pada 22 Desember 2008


Ibu Engkaulah wanita yang mulia,

derajatmu tiga tingkat dibanding ayah,

kau mengandung, melahirkan dan menyusui….”

Demikian salah satu bait sebuah qasidah berjudul ibu  yang dulu pernah populer pada zamannya dinyanyikan oleh salah satu group qasidah ternama saat itu.

Lagu tesebut tidaklah berlebihan apalagi bid’ah, karena Rasulullahpun pernah mengisyaratkan dalam sebuah hadits yang berbunyi :

عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال : جاء رجل إلى رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال : يا رسول الله : ” من أحق الناس بحسن صحابتي ؟ قال : أمك . قال : ثم من ؟ قال : أمك . قال : ثم من ؟ قال : أمك . قال ثم من ؟ قال : ثم أبوك ” . رواه البخاري ومسلم . وابن ماجه

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu.” (Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)

Memperhatikan bunyi hadits di atas betapa Rasulullah memuliakan para Ibu dan memerintahkan kepada kita untuk memuliakannya. Dalam hadits tersebut ibu disebut tiga kali sedangkan ayah hanya satu kali hnal itu menunjukan bahwa ibu memiliki tiga kali hak lebih banyak daripada ayahnya. Hal ini bisa dipahami dari kerepotan ketika hamil, melahirkan, menyusui. Tiga hal ini hanya bisa dikerjakan oleh ibu, dengan berbagai penderitaannya, kemudian ayah menyertainya dalam tarbiyah, pembinaan, dan pengasuhan.

Hal itu diisyaratkan pula dalam firman Allah swt., “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun –selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun–, bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)

Kelelahan yang dirasakan ibu saat mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan kita tak pernah mereka meminta imbalan sedikitpun, kebahagiaan yang dirasakan anaknya sudah cukup untuk membuatnya bahagia. Demikian juga sebaliknya penderitaan yang dirasakan anaknya akan membuat ibu menmderita. tidak ada seorang ibupun yang rela melihat anaknya menderita dia akan selalu terjaga pada kegelapan malam karen tak mau anaknya disakiti walau oleh seekor nyamuk seklipun.

Apa yang telah bisa kita persembahkan untuk ibu kita tercinta pada hari ibu tahun ini ?, sudahkah kita membahagiakanya ?, seberapa sering kita menyakitinya ?, sudahkah kita mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan untuk ibu kita ?, atau malah kita kalah oleh pekerjaan kita yang super sibuk, oleh istri kita yang selalu meminta perhatian lebih dari kita ?, oleh anak-anak kita yang terkadang membuat kita terlena karena asyik masyuk bercanda ria dengan mereka?.

Cukuplah Alqomah di tanah Arab yang durhaka kepada ibunya dan hampir-hampir tak mampu membaca dua kalimah syahadat di akhir hayatnya. Cukuplah Dalam Boncel di tanah sunda yang diberikan penyakit kesrek (gatal-gatal) akibat menyakiti hati ibu bapaknya saat berkunjung ke pendopo kewedanaannya. dan cukuplah Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu karena tidak mau mengakui ibu kandungnya.

Pada peringatan hari ibu tahun  ini saya mengajak kepada saudara-saudara saya seiman mari kita mengingat kembali apa yang telah ibu kita lakukan untuk kita, bukankah perut ibu kita pernah menjadi tempat tinggal kita selam kurang lebih 9 bulan ?, bukankah air susunya pernah menjadi minuman kita selama kurang lebih 2 tahun ?, dan bukankah pelukan dan pangkuannya pernah menjadi tempat pelipur tat kala kita bersedih dan membutuhkan perlindungannya.

Buat saudaraku yang masih memiliki ibu mari kita sama-sama bahagiakan ibu kita, mungpung masih ada. Jangan sampai ada penyesalan disuatu saat nanti karena kita tak bisa membahagiakannya. Buat yang sudah tidak memiliki ibu jika anda telah bersuami/beristri, maka muliakanlah mertua anda. Karena mertua sama kedudukan dengan Ibu yang telah melahirkan kita, dia sama-sama mahram (perempuan yang tidak boleh dinikahi) untuk kita. Jangan pernah berkata kalau mertua itu orang lain yang keberadaannya tidak perlu kita muliakan, nau’dzubillahi min dzalik.

Ingat ! “Terhadap orang Tua kita, Jika Kita tidak Bisa Membahagiakannya, maka jangan sekali-kali kita mengecewakannya, apalagi kalau sampai menyakitinya”.

Hasbunallah wani’mal wakiil

ni’mal maula wani’mannashiir.

Iklan

2 Tanggapan to “Untukmu Ibu”

  1. Eyta Rusnita said

    salam

    saya ingin sekali mengetahui darimanakah dapat saya dengar kan qasidah/nasyid “ibu..engkaulah wanita yg mulia, derajat mu tiga tingkat dibanding ayah….” saya baru sahaja mendengar lagu itu dan sangat suka kannya tetapi tidak tahu mana boleh saya perolehi dan dengar lagi. Terima kasih bagi yg sudi membantu.

    Malaysia

    Suka

  2. Eyta Rusnita said

    salam

    Terima kasih kerana sudi membantu. Qasidah itu bagus sekali. Pertama kali mendengar ustaz sy lagukan, terus saya suka & cuba mencari.Alhamdullilah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: